Ada hal menarik pada saat berlangsungnya wisuda ke-76 di Universitas Negeri Surabaya. Wisudawan sebanyak 1.515 orang terdiri dari doktor, magister, sarjana dan ahli madya (D3). Upacara wisuda di Unesa berlangsung sederhana yang cepat. Agar hikmad, acara dibagi dua: pagi antara pukul 08.00-11.00 dan siang pukul 13.00-16.00. Jadi peserta pagi sekitar 750 orang demikian pula peserta siang hari.

Semua berjalan seperti biasa, kecuali satu. Adanya Bagus Adimas Prasetio. Siapa dia? Lulusan S2 (magister) program studi Seni dan Budaya. Kebetulan dia tunanetra. Sebenarnya sudah sering Unesa mewisuda S1 atau S2 yang berkebutuhan khusus atau menyandang ketunaan. Namun biasanya mereka dari program studi Pendidikan Luar Biasa (PLB). Namun kali ini, Bagus lulus S2 Pendidikan Seni dan Budaya dengan IPK 3,43. Judul tesisnya Pengembangan Buku Ajar Seni Musik untuk Panduan Guru SLB-A YPAB Surabaya, Berbasis Pemecahan Masalah pada Materi Pelajaran Piano.

Saya tidak sempat berbicang banyak. Saya hanya sempat bertanya sekilas tentang kegiatannya sehari-hari saat berfoto bersama. Seperti biasanya, setiap ada wisudawan penyandang ketunaan saya ajak berfoto bersama, setelah acara foto rektor bersama para pemuncak yang mendapat piagam penghargaan. Selebihnya saya bertanya tentang Mas Bagus kepada Kaprodi S1 Seni Budaya, Dr. Trisakti.

Dari pengamatan saya saat bersalaman memberi ucapan selamat setelah Mas Bagus menerima ijazah dari Asisten Direktur I Pascasarjana (Prof Ismet Basuki) dan juga saat berfoto bersama. Juga dari dialog singkat sambil foto bersama dan informasi yang saya terima dari Bu Trisakti, saya menangkap ada dua pelajaran penting dari Mas Bagus, yang ingin saya bagi dengan pembaca.

Pertama, saya bertambah yakin bahwa Sang Khalik itu Maha Adil. Mas Bagus yang di satu sisi dikaruniai tunanetra, di sisi lain dikaruniai kemampuan dalam bidang musik dan ketekunan serta keuletan yang luar biasa. Ternyata Mas Bagus adalah pianis andal dan sekaligus mengajar piano. Judul tesisnya menunjukkan bahwa dia punya pemahaman yang bagus terhadap proses pembelajaran musik di SLB, apa masalah yang dihadapi dan bagaimana solusinya.

IPK 3,43 memang tidak istimewa bagi “orang normal” namun sudah termasuk bagus. Namun jika dilihat bahwa Mas Bagus tunanetra, capaian seperti sungguh sangat istimewa. Secara mudah dibayangkan bahwa kira-kira 60% matakuliah mendapat nilai B dan 40% mata kuliah mendapat nilai A. Dapat dibayangkan bagaimana Mas Bagus mampu mengikuti kuliah bersama teman-teman yang dapat melihat dan ternyata mampu meraih prestasi yang bagus.

Mungkin di program studi PLB sudah tersedia bacaan dan fasilitas yang mendukung penyandang tunanetra seperti Mas Bagus. Namun di program studi Seni Budaya belum menyediakan. Dengan demikian, secara prinsip Mas Bagus terpaksa mengikuti kuliah seperti teman lainnya yang dapat melihat. Sekali lagi, jika tidak memiliki kelebihan dia tentu akan kesulitan.

Kedua, daya juang dan optimisme. Saat salaman dan dialog singkat saya menangkap semangat juang dan opti-mis me yang sangat kuat pada Mas Bagus. Sama sekali tidak tampak kesan minder atau ragu-ragu pada dia. Ketika salaman menjelang foto bersama dia memanggil nama saya dengan jelas dan mantap. Tentu diberi tahu petugas, tetapi cara menyebut nama saya tampak tidak ada keraguan. Cara menjabat tangan juga terkesan mantap.

Ketika saya tanya apa kegiatan sehari-hari, dengan mantap menjawab: “sebagai pianis dan mengajar piano”. Dari Bu Trisakti saya mendapat infomasi memang dia sebagai pianis yang andal dan mengajar di YPAB. Saya jadi kagum, walaupun tunanetra tetapi Mas Bagus “bekerja” dan melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Konon tesisnya juga termasuk sangat baik. Semoga kita dapat belajar kepada Mas Bagus Adimas Prasetio.

Oleh Muchlas Samani

Dalam buku “Semua dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?”



Kontributor:

Thumb unnamed