Banyak ahli yang meyakini bahwa saat ini sedang terjadi pergeseran era. Dari era Atlantik ke era Pasifik. Di masa lalu negara-negara di sekitar lautan Atlantik menjadi pusat dunia, yang berpusat di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara. Kini, secara perlahan tetapi pasti dominasi negara-negara tersebut akan segera berakhir. Perannya digantikan oleh negara-negara di sekitar Lautan Pasifik dan Asia yang akan menjadi motor penggerak utamanya. Itulah yang disebut Era Pasifik dengan pusatnya di Asia.

Jorgen Moller dalam bukunya How Asia Can Shape The World (2011) secara jelas menggambarkan pergeseran tersebut. Moller juga menyebut secara spesifik bahwa Indonesia akan menjadi salah satu pemain penting di era itu. Namun jauh-jauh Moller mengingatkan akan pentingnya pendidikan untuk mewujudkan impian itu. Peringatan itu dimuat dalam satu bab khusus dengan judul Aces or Duds (Kartu As atau Kartu Mati). Ibarat bermain remi, pada pergeseran tersebut pendidikan dapat menjadi kartu As untuk memenangkan pertandingan, atau sebaliknya menjadi kartu mati yang justru menjadi beban yang merepotkan. Kita semua harus siap menjadi kartu As dalam proses pergeseran tersebut.

Untuk itu apa yang diuraikan oleh Dave Ramsey dalam buku Entreleadership (2011) sangat cocok untuk diterapkan. Beberapa catatan Ramsey yang menurut saya cocok untuk mereka yang baru diwisuda antara lain apa yang dia sebut dengan (1) Start with a dream end with a goal, (2) Flavor your day with steak sauce, dan (3) No magic, no mistery.

Ramsey menjelaskan, orang muda harus berani bercita-cita tinggi. Namun sesudah mencanangkan cita-cita, harus memikirkan dan dapat menemukan apa syarat untuk mencapai cita-cita itu. Juga bagaimana tahapan untuk memenuhi persyaratan tersebut. Setelah itu harus berani mulai melangkah dan bekerja keras untuk memenuhi per-sya ratan dan pada akhirnya menggapai cita-cita itu.

Dalam Flavor Your Day with Steak Sauce, Ramsey menjelaskan kita harus mampu membedakan masalah menjadi empat kategori, yaitu (a) penting dan mendesak, (b) penting tetapi tidak mendesak, (3) tidak penting walaupun mende-sak, dan (4) tidak penting dan tidak mendesak. Berdasar-kan kategori itu kita harus pandai membagi enerji kita, agar jangan sampai terkuras untuk mengerjakan sesuatu yang tidak penting walupun mendesak. Sebaliknya jangan sampai kita tidak berani melangkah menangani sesuatu yang penting dan mendesak. Walapun itu penuh tantangan. Kita tidak boleh lari dari tantangan. Setiap tantangan ha rus kita hadapi dan kita pecahkan dengan baik. Bu-kankah ada kata bijak bahwa nahkoda yang hebat adalah yang terbiasa mengarungi lautan yang ganas. Tantangan akan menempa kita menjadi orang yang hebat.

Kalau menggunakan istilah Charles Handy yang memperkenalkan teori kue donat terbalik (inverted doughnut theory), jangan sampai kita terjebak memperdebatkan sesuatu yang tidak penting, yang peripheral dan justru melupakan yang pokok, yang inti. Dalam bahasa lain, jangan sampai kita berdebat dan bahkan bersengketa untuk hal-hal yang carangan, yang kecil-kecil dan justru melupakan persamaan yang besar-besar dan wajib. Jangan kita melupakan yang wajib dan justru mengejar yang sunah dan bahkan mubah.

Ramsey juga dapat menjelaskan dengan baik bahwa hampir tidak ada misteri dalam tahapan mencapai cita-cita. Semua dapat dirancang dengan baik. Tidak ada magic, semua dapat dijelaskan bagaimana tahapan mencapai cita-cita yang telah dipancangkan. Jika tahapan dan persya-ratan telah ditemukan, maka kita harus mulai bekerja keras un tuk melakukannya.

Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas rasanya cocok untuk melengkapi uraian Ramsey tersebut. Di era tek nologi modern keras saja tidak cukup. Oleh karena itu harus disertai kerja cerdas untuk menemukan cara kerja efektif dan efisien. Kadang-kadang ada kelakar “you do not need to work so hard, what you need is to work a little bit smarter.” Walau terkesan menyederhanakan, kelakar itu ada gunakan untuk direnungkan. Kerja ikhlas diperlukan, agar kita dapat menikmati apa yang kita kerjakan. Kita da-pat memastikan dan meyakini bah wa apa yang kita kerjakan merupakan bagian dari ibadah. Bukankah Tuhan memasti-kan bahwa “Tiada aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Dan bekerja dengan baik untuk tujuan mulia, insya Allah bagian dari ibadah.

Kita sedang memasuki era kompetisi yang semakin ketat. Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kreativitas menjadi kunci keberhasilan dalam era tersebut. Kini banyak sekolah di negara maju yang mencanangkan lulusan dengan ungkapan be critical thinker, be problem solver and be creative. Artinya, sekolah itu ingin meng-hasilkan lulusan yang punya kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah dan kreatif. Saya ingin menambahkan jadilah orang yang mampu memecahkan masalah dengan kreatif tetapi juga arif.

Untuk mendukung pengembangan kreativitas, apa yang dijelaskan oleh Boyd dan Golden-berg (2013) dalam bukunya Inside The Box tampaknya cocok untuk dibaca. Mereka telah melakukan riset panjang dan menyimpulkan bahwa untuk menjadi kreatif tidak selalu harus berpikir out of the box. Mereka menemukan banyak temuan kreatif yang ber-asal dari berpikir inside the box, yaitu subtraction, division, multiplication, task unification, dan attribute dependency.

Pola tiket pesawat murah (low cost carrier) yang dimotori oleh Air Asia adalah inovasi yang menggunakan pola substraction, yaitu mengurangi beberapa fungsi yang tidak penting dan mendesak agar lebih efisien dan akhirnya murah. Remote control untuk TV dan AC adalah inovasi berdasarkan prinsip division, yaitu memisahkan TV dan AC dengan alat pengontrolnya, sehingga lebih nyaman pemakainya. Inovasi sepeda beroda tiga adalah contoh sederhana penerapan prinsip multiplication, yaitu membuat roda tambahan untuk fungsi lainnya. Tas punggung (back pack) adalah contoh inovasi dengan prinsip task unification. Otomatis AC dan wipers mobil yang dapat menyesuaikan dengan suhu dan hujan adalah contoh inovasi dengan prinsip attribute dependency.

Yang sangat menarik, Boyd dan Goldenberg membuktikan bahwa kreativitas dapat diajarkan dan dikembangkan dengan pola yang mereka sebut dengan systematic inventive thinking. Setiap orang, baik secara mandiri maupun melalui pelatihan dapat mengembangan daya kreativitas tersebut. Saya menyarankan Anda membaca buku baru tersebut.

Catatan: Disampaikan pada acara Wisuda ke-78 Unesa, 13 Oktober 2013.

Oleh Muchlas Samani

Dalam buku “Semua dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?”



Kontributor:

Thumb unnamed