Sejarah Bimbingan Karier di Inggris

Kehadiran bimbingan karier di negara Inggris dimulai sejak tahun 1973. Pada tahun tersebut, The Employment and Training Act 1973 memberikan tanggung-jawab kepada Secretary of State untuk memastikan setiap pemuda di UK mendapatkan layanan bimbingan karier. Semua pemerintah daerah diminta untuk memberikan layanan karier kepada para pemuda sekaligus bekerja sama dengan sekolah untuk mem-bantu peserta didik dalam mengambil keputusan, baik yang berhubungan dengan studynya maupun karier setelah lulus sekolah. Pemerintah daerah kemudian melaporkan pelaksanaan layanan karier tersebut kepada Employment Department dengan pengawas-an dari Careers Service Branch Inspectors. Proses layanan karier secamam ini bertahan selama dua dekade (Andrews, 2013).

Sejak tahun 1990-an, kebijakan mengenai pelak-sanaan layanan bimbingan karier di Inggris mengalami beberapa perubahan. Salah satu perubahan yang paling mutakhir dan hingga saat ini masih berlaku adalah perubahan kebijakan yang terjadi pada tahun 2012. Sejak bulan September 2012, sebagaimana yang tertuang dalam The Education Act 2011, sekolah-sekolah di Inggris bertanggungjawab untuk menyediakan layanan bimbingan karier kepada setiap peserta didik di kelas 9 sampai 11. Pada tahun berikutnya, kebijakan tersebut diperluas tidak hanya untuk kelas 9 sampai 11, tetapi juga untuk kelas 8 dan peserta didik yang berusia 16 sampai 18 tahun, baik di sekolah, pendidikan lanjutan, maupun college. Pemerintah daerah tetap memiliki tanggungjawab untuk mendorong, memfasilitasi, dan membantu para pemuda untuk berpartisi-pasi dalam program pendidikan dan pelatihan (Ofsted, 2013).

Berdasarkan data terakhir pada tahun 2015, sebanyak 91% peserta didik di England yang rata-rata berusia 16 tahun melanjutkan karier ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, 3% memilih bekerja, 5% masih belum mapan antara melanjutkan pendidikan atau bekerja, sedangkan 1% sisanya tidak sama sekali. Di sisi lain, pada level yang lebih tinggi di mana peserta didik rata-rata berusia 18 tahun, 65% melanjutkan pen-didikan ke jenjang yang lebih tinggi, diikuti 23% peserta didik yang me-milih bekerja, 9% yang masih belum tetap, dan 3% yang tidak memilih keduanya (Department for Education, 2017).

Pelaksanaan Bimbingan Karier di Inggris

Pemerintah Inggris menargetkan setiap peserta didik yang lulus dari sekolah sudah siap untuk beradaptasi dengan kehidupan Inggris yang modern. Hal ini berarti bahwa setiap sekolah harus juga memastikan setiap peserta didik memiliki kemampuan akademik yang baik, nilai-nilai, keterampilan, dan juga perilaku yang diperlukan di dalam kehidupannya. Setiap peserta didik harus diajarkan untuk mengembangkan karakter yang kuat melalui kegiatan di dalam maupun di luar kelas, yang mana karakter tersebut merupakan kunci kesuksesan dalam bidang akademik maupun pekerjaan. Sekolah juga harus memastikan setiap peserta didiknya men-dapatkan informasi yang cukup mengenai karier yang akan dijalaninya sebelum mengambil keputusan (Department for Education, 2015).

Sekolah diharuskan memiliki strategi dalam menjalankan layanan bimbingan karier yang sejalan dengan tujuan akhir layanan bimbingan karier bagi peserta didik. Beberapa prinsip yang harus ada dalam strategi tersebut antara lain:

1. Menginspirasi Peserta Didik

Sekolah dituntut untuk menginspirasi dan membangun cita-cita peserta didiknya. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain: mengundang pembicara dari kalangan pengusaha dan motivational speakers, mengadakan career fairs, mengunjungi college/universitas, serta melakukan coaching. Selain itu, mentoring yang terarah dan tepat sasaran juga dapat membantu mengembangkan karakter dan kepercayaan diri peserta didik demi karier-nya di masa depan.

2. Membangun Kerja Sama dengan Pengusaha

Salah satu upaya untuk menjembatani antara keinginan karier peserta didik dan kenyataan di dunia kerja adalah dengan terus menjalin kerja sama dengan para penguasaha/penyedia lapangan kerja. Hal tersebut akan memberikan gambaran kepada peserta didik tentang keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini. Bentuk kerjasama yang dapat diupayakan antara lain:

  • Mentoring dan coaching
  • Mengundang pembicara dari dunia kerja ke sekolah
  • Kunjungan ke tempat kerja dan memberikan pengalaman kerja
  • Mengadakan acara-acara menarik seperti perlombaan maupun permainan
  • Mengadakan careers fairs dan career networking
  • Bantuan dalam bidang keterampilan sederhana dalam mana-jemen karier seperti membuat Curriculum Vitae (CV), mencari pekerjaan, dan wawancara kerja

  • Selain itu, di UK sendiri terdapat beberapa organisasi yang tujuan utamanya adalah menjembatani kerjasama antara sektor bisnis dan institusi pendidikan, antara lain: Business in the Community’s Business Class, Mosaic, Career Academies UK, dan Inspiring the Future.

    3. Memberikan Akses Terhadap Pilihan-pilihan Karier

    Beberapa contoh pilihan-pilihan karier bagi peserta didik setelah berusia 16 tahun antara lain: apprenticeships, entrepreneurship, A level, universitas, dan lain-lain. Tidak hanya memberikan informasi, sekolah juga dapat mengupayakan untuk mengundang pihak-pihak tersebut agar terlibat secara langsung dengan peserta didik.

    4. Bimbingan Karier Individual

    Bimbingan karier individual dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi peserta didik. Bimbingan karier semacam ini juga sangat bermanfaat bagi peserta didik yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung ataupun peserta didik yang berkebutuhan khusus maupun kesulitan belajar. Bimbingan karier individual bagi peserta didik dapat dilakukan dengan beberapa orang sebagai berikut:

  • Figur panutan maupun orang-orang yang menginspirasi pada jenis karier yang dicita-citakan peserta didik
  • Alumni yang telah sukses di bidangnya
  • Mentor atau coach yang mampu memberikan support secara terus-menerus untuk membangun kepercayaan diri dan tingkat resilience peserta didik
  • Career Adviser yang mampu memberikan berbagai pandangan mengenai pilihan karier berdasarkan prestasi, minat, dan bakat peserta didik.
  • Bekerja Sama dengan Pemerintah Daerah

    Tujuan dari adanya kerjasama antara sekolah dengan pemerintah daerah adalah untuk mengidentifikasi dan menyediakan support bagi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus dan peserta didik yang tidak mampu melanjutkan karier setelah lulus sekolah, baik melanjutkan pendidikan maupun bekerja. Lebih lanjut, pemerintah daerah juga ber-kewajiban untuk memastikan peserta didik di tingkat akhir sudah mem-punyai rencana karier yang jelas setelah lulus.

    1. Bekerja sama dengan National Careers Service

    Dalam merespon tantangan mengenai penyediaan layanan bimbingan karier bagi warganya, pemerintah UK membentuk National Careers Service pada April 2012. Layanan tersebut merupakan kerjasama antara Department of Business Innovation and Skills dan Department for Education.

    National Careers Service memberikan informasi serta bimbingan karier mengenai pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan kepada orang dewasa dan anak muda yang berusia 13 tahun ke atas. Tersedia berbagai macam chan-nel untuk mengaksesnya, antara lain: website (https://nationalcareers service.direct.gov.uk), webchat, email, konsultasi face-to-face, National Contact Centre (0800 100 900), aplikasi smartphone, dan bahkan layanan telepon gratis melalui websitenya. Sekolah diharapkan mampu mengoptimalkan layanan yang ada sehingga tercipta hubungan antara sekolah, college, masyarakat, dan penyedia lapangan kerja (National Careers Council, 2013).

    Sayangnya, National Careers Service hanya diperuntukkan untuk masyarakat England. Namun demikian, masyarakat UK di luar England dapat mengakses layanan sejenis yang tersedia, yaitu: Skills Development Scotland – My World of Work (https://www.myworldofwork.co.uk) untuk warga Skotlandia, Careers Wales (https://www.careerswales.com) untuk warga Wales, serta Careers Service Northern Ireland (https://www. nidirect.gov.uk/campaigns/careers) untuk warga Irlandia Utara.

    2. Bantuan finansial

    Sekolah memberikan informasi kepada peserta didik mengenai bantuan finansial yang berasal dari pemerintah maupun dari sumber lainnya. Bantuan tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan yang dimiliki peserta didik. Pada praktiknya, sekolah juga dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk berbagi data mengenai peserta didik yang layak untuk mendapatkan bantuan finansial.

    3. Bekerja sama dengan Jobcentre Plus

    Jobcentre Plus merupakan sebuah badan yang berafiliasi dengan Department for Work and Pensions sebagai layanan bantuan bagi warga negara yang berusia produktif. Kantor cabangnya tersebar hampir di setiap daerah di UK.

    Dalam konteks bimbingan karier, Jobcentre Plus dapat membantu peserta didik dalam proses transisi dari sekolah ke dunia kerja. Pada pelaksanannya, kerjasama dengan Jobcentre Plus dapat dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya:

  • Jobcentre Plus berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan kepada sekolah mengenai kebutuhan yang diperlukan oleh para pengusaha atau penyedia lapangan kerja
  • Sekolah dan Jobcentre Plus bersama-sama menempatkan peserta didik untuk mendapatkan pengalaman kerja yang terbaik
  • Meningkatkan kerja sama antara penasihat tenaga kerja berkebutuhan khusus di JobcentrePlus untuk membantu proses transisi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus maupun hambatan dalam bekerja

  • 4. Kesetaraan
  • Dalam memberikan layanan bimbingan karier, sekolah diharuskan untuk mencegah adanya stereotip untuk memastikan bahwa setiap peserta didik mendapat hak yang sama demi mendapatkan layanan bimbingan karier yang optimal.

    Pengawasan dan Evaluasi Bimbingan Karier di UK

    1. Jaminan Mutu dan Feedback

    Dalam mengembangkan layanan bimbingan karier, terdapat tiga aspek jaminan mutu yang harus diperhatikan sekolah, yaitu:

  • Kualitas Program Karier di Sekolah
  • Pemerintah merekomendasikan semua sekolah untuk senantiasa mengacu kepada standar kualitas nasional yang berlaku sebagai salah satu upaya untuk melakukan self-review dan evaluasi terhadap program yang dijalankan. Lembaga penjaminan mutu yang telah ditunjuk pemerintah akan senantiasa membantu sekolah dalam proses penjaminan mutu tersebut.

  • Kualitas Career Providers yang Independen
  • Terdapat banyak organisasi yang menyediakan berbagai macam pilihan karier bagi peserta didik. Untuk mendapatkan akreditasi dari pemerintah, organisasi tersebut harus dapat membuktikan bahwa mereka senantiasa memberikan layanan yang komprehensif dan berkualitas. Sekolah dapat mengakses informasi mengenai organisasi yang telah terakreditasi melalui website http://matrixstandard.com.

    • Kualitas Career Adviser yang bekerjasama dengan Sekolah Pemerintah UK, melalui Career Development Institute, telah mengembangkan standar profesi bagi para career adviser. Syarat utama untuk menjadi career adviser adalah mereka harus mem-punyai the Qualification in Career Guidance (QCS) dan the Level 6 Diploma in Career Guidance and Development. Sekolah dapat melihat daftar career adviser yang telah berstandar nasional melalui website http://www.thecdi.net.

    Sekolah juga harus memonitor dan mengevaluasi layanan bimbingan karier yang dilakukan, baik yang melibatkan pihak sekolah, sukarelawan, maupun pihak eksternal. Hal ini bisa dilakukan dengan, misalnya, melibatkan staf senior di sekolah untuk melakukan pengawasan. Selain itu, sekolah juga harus meminta feedback dari peserta didik mengenai program bimbingan karier yang dijalankan. Bentuk feedbacknya bisa secara formal maupun informal. Feedback ini penting karena menjadi salah satu media untuk mengevaluasi dan memperbaiki layanan bim-bingan karier di sekolah.

    2. Destination Measures

    Salah satu cara untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan karier di sekolah adalah dengan melihat prestasi dan capaian yang diperoleh alumninya. Data mengenai ukuran keberhasilan tersebut dapat diakses melalui data statistik yang dipublikasikan oleh Department for Education. Dari data tersebut, sekolah dapat mengukur seberapa sukses-kah peserta didiknya melakukan transisi ke jenjang berikutnya, baik dalam hal akademis maupun pekerjaan.

    3. Peran Ofsted

    The Office Standards in Education, Children’s Services and Skills (Ofsted) memiliki tugas untuk mengawasi jalannya beberapa kebijakan di UK khususnya terkait dengan layanan terhadap anak-anak dan remaja, serta keterampilan bagi pelajar di semua tingkatan usia. Berdasarkan laporan Ofsted pada tahun 2013, terdapat beberapa temuan mengenai pelaksanaan layanan bimbingan karier di UK, antara lain:

  • Hanya satu dari lima sekolah di UK yang dengan efektif memastikan peserta didiknya mendapatkan informasi karier yang diperlukan.
  • Sangat sedikit sekolah yang memberikan layanan bimbingan karier individual dengan melibatkan adviser eksternal.
  • Tidak banyak sekolah yang menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dengan baik dalam hal memberikan bantuan kepada peserta didik yang membutuhkan, termasuk peserta didik yang berkebutuhan khusus.
  • Guru yang diminta untuk memberikan bimbingan karier secara tutorial maupun seminar tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pilihan-pilihan karier yang tersedia di dunia kerja saat ini.
  • Sekolah-sekolah yang memiliki layanan bimbingan karier yang baik dan sesuai dengan standar umumnya memiliki pimpinan yang me-nempatkan bimbingan karier sebagai salah satu prioritas utama.
  • National Careers Service tidak cukup membantu pemuda di bawah usia 18 tahun. Selain itu, hanya sedikit sekolah yang mengetahui secara komprehensif mengenai layanan-layanan yang tersedia di National Careers Service.
  • Kerjasama antara sekolah dan pengusaha/penyedia lapangan pekerjaan kurang baik. Selain itu, para pengusaha juga terlihat kurang berinisiatif dalam menjalin kerjasama dengan sekolah.
  • Terdapat beberapa sekolah yang tidak secara optimal mempromosikan kesempatan-kesempatan yang ada di luar sekolah kepada peserta didik.
  • Hanya sekitar 1/3 bimbingan karier individual yang dilakukan dengan baik.
  • Sekitar empat dari lima sekolah tidak melakukan evaluasi layanan bimbingan karier dengan efektif.
  • Tidak semua sekolah dapat menganalisis data Destination Measures dengan baik (Ofsted, 2013).
  • Berdasarkan temuan tersebut, Ofsted secara detail memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah, pengusaha/penyedia lapangan kerja, National Careers Service, pemerintah daerah, sekolah, dan Ofsted itu sendiri. Beberapa rekomendasi untuk pemerintah antara lain:
  • Menyediakan bimbingan yang jelas dan eksplisit kepada sekolah dalam hal sebagai berikut:
  • Strategi bimbingan karier yang komprehensif

    Cara mendapatkan bimbingan karier yang independen dari pihak eksternal

    Cara memonitor dampak dari kebijakan yang ada secara efektif

  • Memastikan bahwa informasi mengenai tujuan peserta didik yang ber-usia 16, 17, dan 18 tahun lengkap dan akurat, sehingga sekolah dapat mengevaluasi dampak dari bantuan dan saran yang diberikan kepada peserta didik.
  • Menindaklanjuti laporan tersebut, pemerintah melalui Department for Education dan Department for Business Innovation & Skills kemudian memberikan tanggapan beberapa bulan setelahnya. Secara keseluruhan, pemerintah menerima rekomendasi-rekomendasi yang diajukan Ofsted dan membuat kebijakan baru untuk mengimplementasikannya (Department for Education & Department for Business Innovation & Skills, 2013).

    Studi Kasus I: Program mentoring yang melibatkan pengusaha

    Studi kasus I di bawah ini menceritakan penerapan layanan bimbingan karier di The Charter School, Southwark.

    The Charter School menyadari pentingnya peran mentoring dalam menumbuhkan cita-cita peserta didik. Sebagai sebuah sekolah yang baru, The Charter School belum memiliki banyak alumni yang dapat memberikan bantuan/dukungan, sehingga sekolah memutuskan untuk mengem-bangkan sendiri skema mentoring yang mengajak kerja sama dengan beberapa perusahaan di sekitarnya.

    The Charter School kemudian menghubungi Education and Business Alliance di daerahnya yang kemudian menghubungkan sekolah tersebut dengan PwC, King & Wood Mallesons, SJ Berwing dan IPC Media. Per-usahaan-perusahaan tersebut kemudian memberikan pelatihan mentoring kepada para peserta didik. Kesuksesan ini menginspirasi sekolah untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dengan beberapa perusahaan lainnya, termasuk King’s College Hospital.

    Semua peserta didik di kelas 12 ditawari kesempatan untuk memiliki mentor. Pada awalnya, peserta didik dan mentor dicocokkan berdasarkan kesamaan minat. Akan tetapi, sekolah kemudian menyadari bahwa ternyata sesi networking adalah cara yang lebih baik dalam menciptakan hubungan yang efektif antara peserta didik dan para mentor.

    Sekolah kemudian menyelenggarakan tutorial mingguan dengan peserta didik yang memiliki mentor. Hal tersebut bertujuan untuk membantu mengoptimalkan kesempatan yang dimiliki peserta didik bersama dengan mentor dan juga memungkinkan untuk saling belajar satu sama lain. Cara tersebut sangat bermanfaat terutama bagi peserta didik yang merasa kurang percaya diri dalam membangun hubungan dengan mentornya.

    Pada awalnya, hanya tutor dan wali angkatan yang terlibat, namun kemudian guru mata pelajaran juga melibatkan diri ke dalam program mentoring tersebut. Hal itu dilakukan karena para guru mata pelajaran merasakan adanya korelasi secara langsung antara penggunaan mentor dan prestasi akademik peserta didik, terutama pada mata pelajaran matematika, sains, dan bahasa. Guru mata pelajaran kemudian berkomunikasi dengan para mentor untuk membicarakan skema selanjutnya dan beberapa aspek yang masih perlu diperbaiki. Hasilnya, 100% peserta didik yang telah mengikuti program mentoring pada akhirnya dapat melanjutkan ke jenjang universitas/college yang dituju atau mendapatkan pekerja-an yang dicita-citakan.

    Program mentoring telah memberikan banyak sekali manfaat kepada para peserta didik, program bimbingan karier, dan lingkungan sekolah secara lebih luas. Para mentor hingga saat ini tetap memberikan bantuan kepada sekolah, termasuk dalam menyelenggarakan workshop presentasi, wawancara dan keterampilan membangun jaringan, serta bagaimana membuat CV. Mereka menghadiri Careers Fairs, menyelenggakan simulasi wawancara, dan membantu mengembangkan keterampilan berdebat dan kepercayaan diri para peserta didik.

    “Salah satu pertanyaan awal yang para mentor ajukan ke saya adalah ‘apakah saya mampu membuat perubahan dan bagaimana saya mengetahuinya?’. Saya kemudian bertanya kepada mereka dua pertanyaan – ‘apakah anda memiliki guru yang menginspirasi anda?’ Mereka semua menjawab iya. ‘Apakah anda pernah berterima kasih kepada mereka?’ Jawabannya tidak! Saya bilang – anda akan membuat perubahan, ini mungkin terlihat kecil bagi anda tapi perubahan kecil itulah yang akan mengubah hidup para peserta didik.” – Lin Proctor (Koordinator Layanan Bimbingan Karier) (Department for Education, 2014).

    Studi Kasus II: Mengembangkan keterampilan bekerja melalui kurikulum, sambil membangun relasi bisnis

    Studi kasus II di bawah ini menceritakan penerapan layanan bimbingan karier di Small Heath School, Birmingham.

    Small Heath School telah menjadi anggota dari the Greater Birmingham Chamber of Commerce selama 20 tahun. Melalui keanggotaan tersebut, sekolah kemudian berkenalan dengan Russell Jones, Director of Marketing klub sepak bola Aston Villa. Ia ingin berkunjung ke sekolah dan melibatkan peserta didik di sebuah project untuk memperbaiki perencanaan Junior Supporters klub Aston Villa.

    Peserta didik yang terpilih untuk ambil bagian dari project ini meneliti komunitas penggemar junior klub sepak bola lainnya di Premier League. Setelah itu, mereka mempresentasikan laporannya kepada tim marketing di Villa Park dengan menyarankan beberapa perbaikan “Junior Villains” (sebutan untuk penggemar junior klub sepak bola Aston Villa). Para peserta didik kemudian diminta untuk mengidentifikasi bagaimana perbaikan-perbaikannya dapat diimplementasikan dan dilaporkan kembali satu minggu setelahnya. Atas tindak lanjut dari beberapa rekomendasi tersebut, “JV Life” kemudian dibentuk dan rekomendasi-rekomendasi yang diajukan oleh peserta didik dapat dilihat di website klub hingga saat ini.

    Kerja sama antara sekolah dan klub sepak bola tersebut merupakan salah satu bentuk tawaran kesempatan kepada peserta didik untuk menjalankan project yang sesuai dengan kenyataan di lapangan. Hal tersebut memberikan pembelajaran tersendiri dan membuat peserta didik semakin bersemangat terhadap apa yang mereka pelajari.Beberapa manfaat yang dirasakan peserta didik antara lain: pengembangan keterampilan untuk bekerjasama dalam tim, kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang belum pernah ditemui sebelumnya, serta kemampuan untuk bekerja dalam tekanan. Para peserta didik juga kemudian mulai memahami betapa pentingnnya kepedulian terhadap pelang-gan dan proses bisnis yang sedang berjalan.

    Kerja sama tersebut juga memberikan manfaat bagi rekan bisnisnya. Aston Villa menyadari bahwa, sebagai hasil dari pekerjaan yang dilakukan peserta didik, mereka mampu menghemat sekitar £200.000 untuk membayar konsultan. Lebih lanjut, sekolah tersebut sekarang sudah mempunyai jaringan kerja sama dengan perusahaan lain, termasuk Birmingham Airport, Utensa, dan HMS Daring (Department for Education, 2014).

    Kesimpulan dan Pembelajaran

    Pelaksanaan bimbingan karier di sekolah-sekolah di UK mendapatkan dukungan yang sangat tinggi dari pemerintah. Hal tersebut dibuktikan dengan dicantumkannya pasal khusus mengenai bimbingan karier di dalam undang-undang pendidikan nasional. Pasal tersebut juga terus diperbaiki relevansinya secara berkala. Banyaknya panduan dan kode etik yang telah diterbitkan pemerintah bagi sekolah-sekolah di UK juga merupakan bentuk keseriusan pemerintah terhadap kesuksesan karier peserta didik. Fasilitas dan layanan yang dibangun pemerintah seperti National Career Service maupun Jobcentre Plus menjadikan layanan bimbingan karier di sekolah menjadi lebih mudah dan bervariasi. Dari sisi evaluasi program, Ofsted juga berperan dalam mengevaluasi setiap kebijakan mengenai bimbingan karier di Inggris.

    Meskipun demikian, pada praktiknya, terdapat beberapa sekolah yang belum secara optimal mengimplementasikan layanan bimbingan karier kepada peserta didiknya. Beberapa bahkan tidak mengetahui berbagai jenis akses yang telah disediakan pemerintah untuk menunjang pelaksanaan layanan bimbingan karier. Dukungan dari pimpinan dan stakeholder di sekolah sangat penting dalam mencapai kesuksesan layanan bimbingan karier, selain tentunya komitmen bersama dari seluruh perangkat sekolah yang ada.

    Oleh Arihdya Caesar Pratikta

    Dalam buku “Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris”


    Sumber: Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London 2018



    Kontributor:

    Thumb unnamed