Keterampilan dalam Kurikulum Pendidikan Vokasi

Kurikulum Pendidikan vokasi di Inggris memadukan ilmu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills) dan sikap/tingkah laku (attitude and behaviour) untuk memenuhi standar kecakapan calon tenaga kerja. Hal ini dilakukan dengan memadukan keterampilan dasar (core skills), keterampilan kerja (employability skills) dan keterampilan vokasi (vocational skills) (British Council, 2017)

seperti bagan berikut: Keterampilan dasar, di beberapa konteks negara sering disebut foun-dation skill atau basic skill, merupakan kompetensi yang harus dikuasai sebagai dasar keterampilan lainnya. Department for Education (DfE) (2014) menetapkan kemampuan dasar tingkat menengah atas (key stage 4) usia 14-16 tahun berupa mata pelajaran wajib, khusus dan pilihan.

Keterampilan vokasi (vocational skills) berupa spesialisasi mata pelajaran vokasi,mulai diperkenalkan sejak tahun 2002. GCSE vokasi tersedia dalam delapan mata pelajaran yaitu sains terapan, IT terapan, bisnis terapan, seni dan desain terapan, teknik, pabrik, kesehatan dan sosial, pariwisata dan perhotelan (CEDEFOP, 2005). GCSE vokasi setara dengan dua GCSE akademik dan dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, pelatihan maupun bekerja(CEDEFOP, 2014). Setiap lembaga penyedia pendidikan vokasi menawarkan spesialisasi yang berbeda.

Keterampilan kerja (employability skill) atau functional skills/key skills merupakan keterampilan teknis yang digunakan untuk bekerja atau ber-kaitan dengan kesiapan kerja. Sebagai contoh, peserta didik belajar melalui kegiatan diskusi, pemecahan masalah (problem solving), bekerja dalam tim (teamwork), dan menganalisa data dan mengintegrasikan konten-konten yang berkaitan dengan dunia kerja dalam kurikulum pembelajaran (UK Commision and Employment for Skills, 2008).

Post-16 Skills Plan

Berdasarkan rekomendasi Sainsbury Review, dari hasil diskusi the Independent Panel on Technical Education, Pemerintah Inggris melalui the Minister of State for Skills mereformasi kurikulum pendidikan vokasi untuk usia 16 tahun ke atas (post-16) dengan menerbitkan ‘Post-16 Skills Plan’. Kerangka baru ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidik-an vokasi, menyederhanakan sistem dan memastikan lulusan memenuhi kriteria pendidikan abad 21.

Selain pembenahan sistem, salah satu hasil diskusi yang penting dan dijadikan rujukan pemerintah Inggris adalah penetapan kerangka dari 15 spesialisasi bidang(DBIS & DfE , 2016), yaitu:

  • Pertanian, Kepedulian Lingkungan dan Hewan (Agriculture, Environmental and Animal Care)
  • Bisnis dan Administrasi (Business and Administrative)
  • Catering dan Keramahan (Catering and Hospitality)
  • Perawatan Anak dan pendidikan (Children care and education)
  • Konstruksi (Construction)
  • Kreatif dan Desain (Creative and Design)
  • Digital (Digital)
  • Teknik dan Pabrik (Engineering and Manufacturing)
  • Rambut dan salon kecantikan (Hair and Beauty)
  • Kesehatan dan Ilmu Pengetahuan Alam (Health and Science)
  • Izin legal Keuangan dan Akuntansi (Legal, Finance and Accounting)
  • Layanan Pelindung (Protective Service)
  • Penjualan, pemasaran dan pembelian (Sales, Marketing & Procurement)
  • Kepedulian Sosial (Social care)
  • Transportasi dan Logistik (Transport and Logistics)
  • Untuk mendukung post-16, bagi peserta didik pre-16 pemerintah akan:

    a) Membekali sekolah dengan kurikulum berbasis pengetahuan (knowledge-based curriculum) sebagai pijakan persiapan pendidikan vokasi lebih lanjut.

    b) Mengadakan asesmen dan proses kualifikasi termasuk GCSE dengan harapan setidaknya 90% peserta didik mengambil mata pelajaran bahasa Inggris, Matematika, Sains, Sejarah atau Geografi dan Bahasa, bukan mata pelajaran yang biasa saja.

    c) Memastikan kurikulum berbasis pengetahuan diimbangi dengan pengembangan karakter yang baik dan kuat dan nilai-nilai budaya Inggris yang mendasar

    Seiring dengan perkembangan tuntutan dunia kerja yang membutuhkan tenaga kerja yang inovatif dan kreatif, pemerintah Inggris menetapkan kompetensi inti untuk pendidikan vokasi. Kompetensi inti tidak secara langsung relevan dengan pekerjaan melainkan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan dengan pekerjaan dan pendidikan lebih lanjut (CEDEFOP, 2016). Kompetensi inti tersebut meliputi:

    a. Komunikasi dalam bahasa ibu (communication in the mother tongue)

    b. Komunikasi dalam bahasa asing (communication in other languages)

    c. Kompetensi matematika, sains dan teknologi (competences in maths, science and technology)

    d. Kompetensi digital (digital competence)

    e. Belajar cara belajar (learning to learn)

    f. Interpersonal, kompetensi sosial dan interkultural, serta kompetensi sipil (interpersonal, intercultural and social competence, civic competence)

    g. Kewirausahaan (entrepreneurship)

    h. Ekspresi budaya (culture expression)

    Program Magang (Apprenticeship)

    Kualifikasi pendidikan vokasi dapat ditempuh melalui program magang kerja (apprenticeship) yakni peserta didik belajar untuk bekerja di suatu perusahaan.Program ini fleksibel sesuai pilihan spesialisasi yang dipilih. Peserta juga dapat menggunakan magang untuk mendapat kualifikasi setara level tertentu baik A level, diploma, sarjana bahkan master.

    Untuk program magang,Richard (2012) merekomendasikan:

    menyediakan pelatihan terkait technical knowledge dan practical skills untuk bekal siap kerja

    target dan metode pelaksanaan magang harus diperjelas dan melalui pelatihan yang memberikan pengalaman ketrampilan khusus kepada peserta mengenai dunia kerja yang nyata (transferable skills).

    kualifikasi peserta magang harus merupakan siswa terbaik dengan kemampuan Matematika dan Bahasa Inggris yang sangat baik. Dua mata pelajaran ini diprediksi menjadi kunci kemampuan siswa memahami konsep dan menganalisa, melalui pembelajaran yang langsung berhubungan dengan konteks nyata dunia kerja (DBIS, 2013) dan merupakan mata pelajaran mendasar untuk asesmen pendidikan vokasi (Wolf, 2011).

    Pendidikan Vokasi yang Ramah Lingkungan (Green TVET)

    Inggris merupakan salah satu negara yang menandatangani beberapa persetujuan terkait isu perubahan iklim di antaranya the United Nations Framework Conventionon Climate Change(1990s), the Kyoto Agreement (1997, 2005, 2012) dan the Copenhagen Accord(Pye, Evans, & Aggett, 2012).Inggris mengambil beberapa kebijakan tentang pembaharuan energi, dampak karbon, dan teknologi lingkungan yang terkait dengan perkembangan ekonomi dan bisnis. Salah satunya adalah kebijakan pendidikan vokasi sebagai penyedia tenaga kerja terampil dan peduli lingkungan. Hal itu sejalan dengan pilar strategi UNESCO untuk pendidikan dan pelatihan vokasi tahun 2016 -2021 (UNESCO, 2016). Adapun kebijakan-kebijakan itu adalah:

    1. Green Skills

    Green skillsadalah ketrampilan yang dibutuhkan untuk menyesuaikan produk, layanan dan proses agar ramah lingkungan. Pengembangan green skills perlu dilakukan melalui jalur pendidikan sebagai salah satu keterampilan kecakapan hidup (life skills/transferable skills)(OECD/CEDEFOP, 2014). Hal ini untuk mendukung masyarakat yang efisien dan berkelanjutan. Green economy atau ekonomi hijau identik dengan memaksimalkan nilai ekonomi dengan mengurangi resiko lingkungan secara signifikan (DBIS, DECC & DEFRA, 2011). Pada akhir tahun 2009, the Department for Business, Innovation and Skills (BIS) mempublikasikan Sustainable Development Action Plan, sebuah rencana kebijakan yang mencakup berbagai inisiatif untuk merespon perubahan lingkungan, pengaruh transisi ke low carbon economy termasuk pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Developmet or ESD). Kebijakan ESD memasukkan isu peningkatan low carbon ke dalam kurikulum pembelajaran. Pada tahun 2011 pemerintah Inggris mengeluarkan the Skills for Green Economy, sebuah laporan pengembangan keterampilan terkait low carbon sebagai salah satu rekomendasi dari Skills for Sustainable Growth.

    Praktik ESD di Inggris diterapkan pada semua level dan konteks pembelajaran. Meskipun demikian UNESCO (2013) mencatat bahwa perkembangan ESD masih dalam skala kecil berupa proyek-proyek dalam kurunwaktu tertentu. Menurut temuan UNESCO tersebut, belum ada kebijakan dan pandangan yang koheren dan visi yang jelas mengenai peran ESD dalam pembelajaran dan kontribusinya dalam meningkatkan kualitas lulusan, ter-masuk dalam pendidikan vokasi. Di negara bagian Inggris dan Irlandia Utara masih sedikit kebijakan mengenai sustainable development. Sementara itu di Wales, penekanan kebijakan tersebut lebih signifikan meskipun isu ESD mulai berkurang. Di Skotlandia, pembuat kebijakan dan praktisi meng-integrasikan pendidikan dan sustainable development sebagai kunci menuju sustainable society.


    2. Program the Eco-Shools

    Di Inggris, program ini diluncurkan tahun 1994 oleh Foundation for Environmental Education (FEE)yang dikelola oleh sebuah NGO bernama Keep Britain Tidy. Program ini telah beranggotakan lebih dari 40,000 sekolah yang tersebar di 53 negara di seluruh dunia (UNESCO, 2017). 70% dari sekolah di negara bagian Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara terdaftar pada program ini. Awalnya program ini didanai peme-rintah, namun pada Mei 2015 pendanaan berasal dari berbagai macam sumber di antaranya biaya asesmen sekolah, pelatihan berbayar dan kerja sama komersial.Sekolah yang mengikuti program ini membentuk Eco Commitee yang terdiri dari para siswa untuk mengerjakan sebuah proyek terkait isu lingkungan. Program ini mencakup berbagai topik seperti pengelolaan sampah, limbah, energi, air, tanah, keanekaragaman hayati, kesehatan dan kebugaran, makanan dan lingkungan, transportasi, serta kewarganegaraan global. Sekolah yang menunjukkan peningkatan akan mendapat predikat bronze, silver atau ‘Green Flag’ (predikat tertinggi).

    Program eco-school ini dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran melalui pembuatan poster tentang penghematan air, menulis esai tentang isu lingkungan, praktik cara menanam pohon, mengamati hewan dan tumbuhan di sekitar sekolah dan mengelola sampah. Program ini tidak hanya turut menjaga lingkungan tetapi juga mengembangkan keterampilan berkomunikasi, mengamati, dan berpikir kritis.

    Salah satu penyedia pendidikan vokasi yang mengikuti program Eco-Schools adalah Liverpool Live Science UTC yang membuat proyek Aquaponic yakni kombinasi budidaya ikan dan budidaya tanaman tanpa tanah (hidroponik). Sekolah yang memiliki spesialisasi Sains and Health Care untuk siswa usia 14-19 tahun ini dinobatkan sebagai The Eco-school Project of the Year melalui karya Aquaponic yang inspiratif dan inovatif (Life Science UTC, 2015).

    Program Eco-Schools di negara Inggris menunjukkan hasil positif terhadap kesehatan, perkembangan kognitif, sikap dan perilaku. Tak kalah pentingnya adalah program ini mendorong kebebasan sekolah menentu-kan program sesuai kurikulum nasional dan mengacu kepada keterampilan abad 21.

    Integrasi Higher-Order Thinking (HOT) Skills

    dalam Kurikulum dan Pembelajaran

    Higher-Order Thinking (HOT) Skills merujuk pada ketrampilan berpikir kritis, kemampuan menyusun strategi dan pemecahan masalah. Adapaun keterampilan berpikir kritis termasuk kemampuan untuk berpikir kreatif, membuat keputusan, memecahkan masalah, menganalisa, dan meng-enterpretasikan (Sandra, 1992). Dikaitkan dengan teori kognitif, HOT Skills merupakan pola berpikir kompleks meliputi tingkat berpikir analisa, sintesa, evaluasi, dan kreasi seperti memilih dan mengambil keputusan, menumbuhkan apa yang diyakini, menemukan ide baru, membuat obyek baru, memprediksi, dan menyelesaikan masalah insidental (Lewis & Smith, 1993).

    Menurut Thomas (1992), pekerjaan menuntut kemampuan kognitif; lingkungan kerja yang dinamis memerlukan kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang terus berubah; dan pentingnya pendidikan vokasi menyediakan konteks nyata dalam pengembangan kemampuan berpikir. Pendidikan vokasi merupakan sarana untuk mengembangkan keterampilan kognitif, sehingga peserta didik tidak hanya diajari apa yang harus dipikirkan (what), melainkan bagaimana berpikir (how)(Chalupa, 1992). Pengajaran HOT Skills tidak dapat dikembangkan terpisah dengan mata pelajaran melainkan dengan mengintegrasikannya dalam peng-ajaran materi yang disampaikan(Wegerif, 2006) seperti dalam kurikulum dan proses pembelajaran.

    1. Dalam Kurikulum Mata Pelajaran Wajib

    HOT Skills dikembangkan melalui keterampilan dasar atau inti (core skills) dalam ranah kemampuan kognitif. Porsi pengetahuan umum dan spesiali-sasi dibagi menjadi 60:40 untuk peserta didik usia 14-16 tahun di mana 60% merupakan pembelajaran akademik dan 40% keterampilan vokasi/spesialisasi. Sementara itu sebaliknya ketika peserta didik berusia 16-19 tahun porsi menjadi 40:60, yakni 40% akademik dan 60% vokasi/teknik (Mitchell, 2016). Meskipun pendidikan vokasi menekankan pada keterampilan teknis dan praktik, pengembangan pengetahuan dan kemampu-an akademik (kognitif) tetap dilakukan secara seimbang.

    Dalam Curriculum for Excellence di Skotlandia, keterampilan yang di-kembangkan untuk belajar, untuk kehidupan dan untuk bekerja menggunakan kerangka keterampilan yang mencakup kepemimpinan (leadership), bekerja dengan orang lain (working with others), pemecahan masalah (problem solving), keterampilan berpikir (thinking skills) dan usaha (enterprise) (Perth & Kinross, 2015). Peserta didik diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan keterampilan berpikir kompleks melalui banyaknya kesempatan praktik dan penerapan, terutama berkaitan dengan literasi dan numerasi. Maka, aktivitas pembelajaran untuk pengembangan HOT Skills tertuang secara jelas dalam mendisain rencana pembelajaran (lesson plan) (The Scottish Government, 2009) misalnya dengan pertanyaan kritis tentang solusi apa saja yang memungkinkan untuk suatu masalah, pendapat dari perspektif yang berbeda, dan bagai-mana seseorang yakin atas keputusannya.

    2. Dalam Proses Pembelajaran

    Peningkatan HOT Skills dilakukan dalam proses pembelajaran melalui berbagai cara. Hal ini tentu menuntut peran guru untuk menyusun rencan pembelajaran yang memasukkan strategi untuk menumbuhkan keterampilan HOT. Pembelajaran di kelas dilakukan melalui berbagai aktivitas seperti kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan vokasi Energy Coast UTC(2017) yang fokus pada pengembangan aspek utama belajar meliputi problem solving, enquiry, reasoning, creative thinking, dan evaluation yang mengarah pada pengembangan higher-order thinking skills. Guru dan staf diharuskan mengembangkan kemampuan dan keterampilan tersebut dengan berbagai metode yang sesuai misalnya diskusi, kerja tim, memberikan umpan balik, dan penggunaan IT.

    Studi Kasus 1: Melalui Kemampuan Bertanya (Questioning)

    Bucks UTC, salah satu lembaga pendidikan vokasi di Inggris menetapkan aturan untuk meningkatkan HOT Skills melalui budaya bertanya (questioning) (Bucks UTC, 2016a). Guru harus berkeliling kelas untuk memberikan umpan pertanyaan dan menerapkan taksonomi Bloom untuk membuat variasi pertanyaan dari yang sederhana hingga kompleks. Peserta didik didorong untuk berani mengajukan pertanyaan. Peran guru adalah menciptakan kondisi dimana peserta didik tidak takut membuat kesalahan dan berani mengambil resiko. Maka strategi yang diterapkan selama pembelajaran adalah angat tangan/tidak (Hands/No hands rule), mene-lepon teman (phone a friend), berpasangan (pair/share), dan waktu tunggu (wait time). Dengan cara tersebut peserta didik diharapkan mampu mening-katkan keterampilan berpikir tingkat tinggi memalui keterampilan bertanya.

    Studi Kasus 2: Melalui Literasi

    Dalam taksonomi Bloom,higher-order thinking skills merupakan pengembangan dari lower-order thinking skills. Misalnya, membaca termasuk lower order thinking skills sementara mengevaluasi dan menganalisa apa yang dibaca termasuk higher order thinking skills (Wegerif, 2006).

    Bucks UTC juga merupakan salah satu sekolah yang fokus pada pe-ngembangan HOT Skills melalui literasi dengan program vokasi Konstruksi (Construction) dan Komputer (Computing). Kebijakan literasi yang diterapkan yakni seluruh guru, tidak hanya guru bahasa, menguasai mem-baca, menulis dan komunikasi secara efektif. Seluruh kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memasukkan tujuan literasi sekolah ke dalam mata pelajaran. Misalnya, pembelajaran melalui diskusi, presentasi hasil karya konstruksi, dan menulis laporan atau prosedur dengan efektif. Pe-serta didik dibiasakan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat efektif, menyampaikan ide dengan jelas, mengenali audiens, mensintesa apa yang dibaca, dan berdiskusi (Bucks UTC, 2016b). Dengan demikian, peserta didik berlatih untuk berkomunikasi lisan dan tertulis dengan efektif dan diharap-kan mampu menjadi tenaga kerja yang profesional, komunikatif dan kritis.

    Studi Kasus 3: Melalui Project-Based Learning

    Sekolah vokasi Bohunt di bawah naungan Bohunt Education Trust (BET) mengembangkan peserta didik melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dalam STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Penerapan kurikulum STEM dan pendekatan pembelajaran melalui project based Learning (PBL) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kompleks secara lebih mudah (Avery, 2014).

    Penerapan STEM di Bohunt School didisain menyesuaikan kebutuhan industri. Kurikulum STEM tidak hanya mengembangkan pengetahuan tetapi juga keterampilan dan sikap perilaku yang baik (habit of mind)(Bohunt Education Trust, 2016). Integrasi kurikulum dengan industri dilakukan melalui konten, sumber-sumber belajar dan pembelajaran proyek. Sekolah bekerjasama dengan ahli industri dari perusahaan lokal menyusun kurikulum STEM mulai kelas 7 dan 8.

    Bohunt School juga aktif mengadakan STEM festival untuk sosialisasi mengenai jalur pendidikan vokasi bidang STEM, karir STEM dan mengikuti berbagai proyek dalam beberapa kompetisi. Salah satunya adalah ber-partisipasi dalam proyek ‘Merlin Challenge’ untuk membuat mobil ramah lingkungan. Para peserta didampingi oleh karyawan perusahaan penyelenggara kegiatan. Pesertra didik dapat mengamplikasikan STEM dan mendapat gambaran penerapan STEM dalam dunia kerja di kemudian hari.

    Kesimpulan dan Pembelajaran

    Reformasi pelaksanaan pendidikan vokasi di Inggris terus dilakukan untuk menyiapkan tenaga kerja yang handal baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Meskipun keempat negara bagian Inggris memiliki otonomi untuk menentukan sistem dan kebijakan pendidikan vokasi, semuanya mengacu kepada tujuan yang sama dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.

    Kurikulum yang dikembangkan memuat keterampilan inti/dasar/wajib akademik (core skills), keterampilan vokasi (vocational skills) sesuai spesialisasi yang diambil dan keterampilan kerja (employability skills) berupa keterampilan penunjang di dunia kerja. Peserta didik dapat menguasai keterampilan tersebut melalui dua rute yang sesuai pilihan yakni melalui jalur pembelajaran di kelas (college-based atau school-based) atau melalui program magang (employed-based approach). Penyedia pendidikan vokasi bekerjasama dengan pengusaha dan profesional untuk menyusun kurikulum agar kualifikasi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kurikulum dan pembelajaran fokus pada memberikan pengalaman nyata berupa project-based learning dengan terus mengikuti perkembangan teknologi dan kepedulian lingkungan.

    Belajar dari pendidikan vokasi di Inggris, memadukan kemampuan akademik, keterampilan kerja dan sikap secara seimbang merupakan tantangan tersendiri. Indonesia dengan Kurikulum 2013 sesungguhnya telah menyatukan tiga komponen tersebut, tetapi pelaksanaannya belum seperti yang diharapkan. Beberapa hal yang dapat dipelajari dari pendidikan vokasi di Inggris adalah:

    1. Reformasi kurikulum yang berkelanjutan. Mengulas kembali kurikulum vokasi di Indonesia terkait program studi dan mata pelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman. Misalnya program studi programming, maritim, pariwisata, teknologi digital, dan sebagainya yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap wilayah.

    2. Meningkatkan kerjasama (partnership) antara sekolah dan industri dengan melibatkan pengusaha, tenaga ahli/profesional dari perusahaan, dan lembaga bimbingan karir dalam menyusun kurikulum pendidikan vokasi termasuk program binaan dan program magang untuk menyelaraskan keterampilan yang dibutuhkan dan meminimalisir gap antara keterampilan lulusan dan keterampilan dunia kerja.

    3. Mengintegrasikan keterampilan dan kecakapan hidup dalam panduan kurikulum nasional dan pembelajaran termasuk kepedulian lingkungan terkait isu perubahan iklim dan energi terbarukan sebagai upaya merespon isu lingkungan global. Misal pelatihan kepada kepala sekolah dan guru-guru agar sekolah memiliki program yang ramah lingkungan dan menerapkannya ke dalam pembelajaran vokasi.

    4. Peningkatan kompetensi guru pendidikan vokasi. Pelaksanaan continued profesional development (CPD) bagu guru-guru sekolah vokasi melalui guru magang di perusahaan, guru tamu dari perusahaan /industri, program pendidikan guru (teacher education) vokasi, dan workshop rutin bagi guru vokasi baik mengenai kurikulum, pedagogi dan perkembangan dunia kerja. Penekanan pembelajaran pada project-based learning untuk menghindari peserta didik terjebak belajar untuk ujian nasional tertulis.

    5. Penambahan infrastuktur berupa fasilitas pembelajaran untuk praktik kerja di sekolah menengah kejuruan dan perbaikan sistem program magang di perusahaan. Sekolah menjalin kerjasama dengan per-usahaan sebagai tempat praktik peserta didik terutama jika fasilitas sekolah minim, sekaligus perbaikan program magang di perusahaan yang selama ini terkesan kurang serius, yakni untuk memenuhi persyaratan kelulusan.

    Oleh Sri Lestari

    Dalam buku “Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris”

    Sumber: Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London 2018



    Kontributor:

    Thumb unnamed