Terlalu awal saya tiba di bandara Soekarno Hatta. Ternyata tiket saya pulang ke Surabaya berlaku untuk pukul 14.40 siang. Waktu itu saya hanya memegang SMS kode booking dari teman yang membelikan tiket, jadi sejak pukul 08.00 saya sudah meluncur ke bandara. Takut kalau ada masalah, karena hari itu musim orang berebut tiket untuk mudik Lebaran. Begitu saya menunjukkan SMS kepada petugas counter, saya langsung dapat tiket. Saya mencoba memajukan jam penerbangan, tetapi tiket sudah terjual habis. Jadi, saya harus bisa “membunuh waktu” sekitar lima jam.

Saya mengisi waktu dengan membaca dan melihat TV. Tapi lama-lama bosan juga. Akhirnya, setelah shalat Duhur saya jalan-jalan dan masuk ke toko buku. Di situ saya melihat buku dengan judul Inside The Box karya Drew Boyd dan Jacob Goldenberd. Kebetulan ada yang sudah terbuka (tidak dibungkus plastik), sehingga saya dapat membaca daftar isi dan sedikit introduction-nya. Ternyata itu buku tentang kreativitas. Merasa tertarik, akhirnya saya beli. Buku itu ditulis oleh Drew Boyd, seorang pensiunan dari pejabat penting di Johnson & Johnson, sedangkan Jacob Goldenberd adalah profesor bidang Marketing di Columbia University.

Selama ini saya, mungkin juga banyak teman, memahami bahwa untuk kreatif kita harus berpikir out of the box. Harus berpikir yang tidak seperti biasanya. Itulah sebabnya para seniman, yang konon kreatif, banyak berpakaian dan berperilaku aneh. Kantor lembaga seni atau sejenisnya juga sering tidak seperti kantor pada umumnya. Pokoknya selalu beda. Mungkin metafora see what all see but think what nobody thinks cocok indikator untuk orang kreatif.

Stan Sigh, CEO dan pendiri komputer Acer pernah me nulis buku berjudul Me Too Is Not My Style. Buku itu bercerita, sejak bocah Stan Sigh memang sudah berpikiran tidak lazim atau bahkan berseberangan dengan pikiran pada umumnya. Jika orang pada umumnya berpikiran A, dia menempuh jalan B. Ketika perusahaan baru umumnya takut membuat brand sendiri, dia justru melakukan, yaitu Acer. Pokoknya dengan pikiran yang berbeda dengan orang banyak akan menghasilkan suatu kreasi yang tidak dihasilkan orang lain.

Nah, buku In Side the Box memberi bukti dan mengajarkan hal yang bertentangan. Menurut buku itu, selain berpikir out of the box, untuk menjadi kreatif juga dapat dilakukan dengan berpikir inside the box. Bahkan menurutnya sebagian besar penemuan yang selama ini kita kenal, misalnya remote control TV dan AC, penerbangan dengan harga murah (low cost carrier) tas punggung dan sebagainya ditemukan dengan pola pikir inside the box. Berikut ini ringkasan (sangat ringkat dari buku itu, silakan baca sendiri jika ingin yang lebih detail).

Buku itu mengenalkan metoda berpikir yang disebut Systematic Inventive Thinking (SIT). Ada lima teknik dalam SIT yaitu subtraction, division, multiplication, task unification, dan attribute dependency. Menurut buku itu, sebagian besar penemuan yang ada selama ini muncul melalui metoda itu. Metoda substraction pada intinya mengurangi atau menghilangkan sesuatu bagian yang tidak penting, sehingga produk (benda atau layanan) menjadi lebih simpel, tanpa mengurangi hal-hal yang pokok. Penerbangan murah yang diterap kan Air Asia merupakan contoh penerapan metoda itu. Pe nerbangan ini mengurangi jenis layangan yang tidak penting, misalnya minuman dan transfer bagasi. Toh tidak banyak yang memerlukan. Hasilnya harga tiket Air Asia menjadi murah.

Mungkin (ini pendapat saya) pola anggaran hotel yang kini marak juga menerapkan prinsip substraction. Budget hotel mengurangi beberapa layanan yang tidak penting dan diubah menjadi optional dengan tarif tambahan. Harga dasar hanya mencakup kamar dengan fasilitas tertentu. Kalau ingin tambahan layanan, misalnya telepon kamar, TV, makan pagi, atau lainnya, harus menambah lagi. Nah, bagi yang tidak memerlukan, harga menjadi murah.

Metoda division pada intinya melepas fungsi tertentu dan dibuat berdiri sendiri. Remote control TV dan AC merupakan hasil pemikiran itu. Demikian pula external hard disk, flash disk, dan drop box untuk penyimpakan file dokumen. Mungkin (ini pendapat saya) layanan electronic ticket dan ATM untuk pengambilan uang juga merupakan produk pemikiran itu.

Metoda multiplication pada intinya mengkopi komponen yang sudah ada lalu digunakan untuk keperluan lain yang lebih penting. Tambahan dua roda untuk sepeda yang digunakan anak kecil, agar tidak jatuh, merupakan bentuk penggunaan pola pikir multiplication. Kunci elektronik mobil mungkin juga seperti itu.

Metoda task unification pada intinya menggabungkan beberapa fungsi menjadi satu kesatuan sehingga menjadi lebih kompak dan simpel. Tas punggung yang dapat di gunakan untuk membawa buku, laptop, dan beberapa lembar baju merupakan penerapan pola pikir ini. Mungkin juga (menurut saya) kopi mix, sampho yang sekaligus mengandung conditioner rambut merupakan produk pola pikir task unification. Metoda attribute dependency pada prinsipnya menggandengkan beberapa komponen menjadi satu kesatuan. Penggabungan wiper mobil, penggabungan flashdisk yang sekaligus untuk senter mungkin juga merupakan bentuk pola pikir tersebut.

Dengan mempelajari uraian buku itu, mungkin yang dimaksud dengan inside the box adalah memanfaatkan barang/komponen/fungsi yang ada untuk selanjutnya dikembangkan/ digabungkan/dikurangi dan sebagainya. Jadi tidak selalu harus memulai dari yang benar-benar baru sama sekali. Jadi prinsip penyempurnaan/pengembangan juga berlaku dalam mengembang kreativitas. Rasanya, pada pendidik yang berkeinginan mengembangkan kreativitas anak didiknya, perlu mempelajari prinsip tersebut. Syukur kalau dapat mengembangkan agar lebih cocok dengan budaya Indonesia. Semoga.

Oleh Muchlas Samani

Dalam buku “Semua dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?”



Kontributor:

Thumb unnamed