Dalam dunia pendidikan, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah berlangsung sejak pertengahan tahun 1960-an, namun, penggunaan perangkat komputer baru diterapkan di awal tahun 1970-an. Terhitung sejak awal 1990-an, 20%dari institusi pendidikan di Inggris sudah mengguna-kan perangkat komputer secara aktif (Our ICT, 2015). Penggunaan teknologi ini tentunya memberikan dampak bagi setiap perangkat pendidikan sehingga bimbingan mengenai penerapan TIK yang tepat dalam praktik pendidikan juga diperlukan.

Tahun 1998, pemerintah Inggris mendirikan BECTA (British Educational Communication and Technology Agency) badan independen yang bertugas sebagai penasihat, pengawas, serta penunjang penggunaan TIK dalam lingkungan pendidikan (Dykes, 2016). Dengan adanya badan khusus ini, pemerintah Inggris berharap agar penggunaan TIK dapat mendukung tidak hanya dalam proses belajar mengajar, tetapi juga memaksimalkan praktik lifelong learning, pendidikan kepemimpinan, pendidikan tinggi, juga bimbingan karier (Chinien, 2003). Demi memfasilitasi institusi pendidikan untuk mempermudah penerapan TIK, BECTA memberikan kerangka aturan penerapan untuk kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh masing-masing institusi pendidikan agar sesuai dengan tujuan proses belajar mengajar yang sudah diterapkan (BECTA, 2008; Bannister, 2008). Selain itu, BECTA juga menerbitkan sebuah panduan untuk menjamin keamanan dalam penggunaan TIK di institusi pendidikan (BECTA, 2005).

Integrasikan TIK dalam sistem pendidikan vokasi membutuhkan biaya yang besar. GSMA Mobile Education (2011) mencatat dana yang dialokasikan oleh pemerintah Inggris pada tahun 2011 bagi penerapan TIK adalah sebesar £56,200 (setara dengan 1 Milyar rupiah). Jumlah tersebut merupakan jumlah total yang dikeluarkan pemerintah bagi pendidikan lanjutan di Inggris, termasuk pendidikan vokasi. Dana ini diinvestasikan dalam bentuk desktop, laptop, Wi-Fi, bandwidth, interactive whiteboard, learning platform dan perangkat lainnya.

Integrasi TIK dalam sistem pendidikan vokasi Inggris memiliki pengaruh terhadap peran pendidik dan peserta didik. Dengan adanya TIK, pendidik diharapkan mampu menjadi fasilitator dan kolaborator dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik dapat berperan lebih aktif. Selain itu, integrasi TIK juga memberikan pengalaman baru karena pada prosesnya, pendidik dan peserta didik yang berperan sebagai pengguna tekno-logi ini akan memasuki sebuah lingkungan pembelajaran virtual,Virtual Learning Environment (VLE). VLE adalah sebuah perangkat software yang menjadi wadah untuk berkolaborasi dan berinteraksi serta menyampaikan konten yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar (BECTA, 2004).

Sebagai badan yang berperan penting dalam perencanaan kebijakan TIK di institusi pendidikan, BECTA mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang harus disertakan dalam pembuatan kebijakan pada pendidikan vokasi di Inggris, antara lain:

a. Tujuan TIK dan kontribusinya terhadap visi dan misi institusi pendidikan

b. Kontribusi khusus TIK bagi kurikulum

c. Kontribusi TIK bagi subyek lain

d. Bagaimana mata pelajaran tersebut akan diawasi dan dievaluasi

e. Sebuah strategi penerapan TIK

f. Gaya mengajar dan belajar

g. Pencatatan, penilaian dan pelaporan

h. Pengawasan dan review

i. Pengelolaan kelas dan sumber daya

j. Inklusi dan pendidikan khusus

k. Keberlanjutan dan perkembangan

l. Pengembangan kemampuan dan pelatihan staf

m. Peran manajemen dan kepemimpinan

n. Tautan terhadap MIS (Management Information System)

o. Penggunaan TIK dalam komunitas dan di luar jam belajar

Namun, terlepas dari berbagai kebijakan yang dihasilkan yang dirasa sangat membantu pelaku pendidikan, BECTA diberhentikan pada 31 Maret 2011 dan beberapa topik yang sebelumnya ditangani oleh BECTA, kini ditangani oleh Department of Education (DfE) dan Department of Business, Innovation and Skills (BIS) (Wifiinschools, 2016).

British Council (2017) menekankan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran vokasi haruslah berinovasi dalam penyampaian materi juga desain kurikulum, serta melibatkan para pemilik lapangan pekerjaan yang mampu memberikan pengalaman lebih bagi para peserta didik. Berikut contoh penerapan yang disarankan oleh British Council (2017):

a. Penggunaan TIK secara ekstensif dalam mengelola pembelajaran, melacak perkembangan pembelajaran, dan menyediakan konten-konten online.

b. Tersedianya distance dan blended learning yang memberikan akses yang lebih baik untuk menjangkau konten dan proses pembelajaran dengan kualitas yang tinggi.

c. Penggunaan media sosial untuk melibatkan komunitas lokal, termasuk sekolah, penyedia pelatihan lain, serta penyedia lapang-an pekerjaan.

d. Membangun hubungan yang lebih kuat dengan para penyedia lapangan pekerjaan dan memberikan pelatihan berkualitas di tempat kerja.

Integrasi TIK dalam proses Belajar Mengajar

Dalam pendidikan vokasi, fokus dari TIK sebagai kurikulum terletak pada pengembangan keterampilan literasi TIK. Keterampilan literasi TIK pun terbagi menjadi dua keterampilan yaitu keterampilan umum dan keterampilan spesifik penunjang pekerjaan. Keterampilan literasi TIK meliputi penggunaan database, pemrosesan kata, publikasi desktop, dan penggunaan internet untuk penelitian dan komunikasi (Kasworm dan Londoner, 2000). Sedangkan keterampilan penunjang pekerjaan meliputi kemampuan untuk menggunakan perangkat CNC (Computer Numerical Control), CAD/CAM (Computer-Aided Design/ Computer-Aided Manufacturing), dan mengoperasikan kontrol sistem digital.

Dalam praktiknya, penggunaan TIK seringkali dikaitkan dengan penggunaan internet serta aktivitas yang dilakukan secara online. Selain sebagai penunjang, dalam sistem pendidikan vokasi Inggris, internet sudah menjadi salah satu bagian penting dalam terlaksananya pendidikan. Pada poin-poin selanjutnya, akan dibahas beberapa contoh bentuk pemanfaatan TIK yang ditunjang oleh internet.

a. Learning Platform

Learning platform adalah salah satu bentuk dari VLE (Virtual Learning Environment) yang menyediakan beragam akses ke konten kurikulum dan sumber daya, tugas, perangkat penilaian, serta berperan sebagai ruang publik di mana pendidik dan peserta didik dapat berinteraksi (UK Trade & Investment, 2014). Hingga tahun 2010, 93% dari institusi pendidikan tingkat lanjut sudah memanfaatkan learning platform dalam proses belajar mengajar dan administrasi (Collie, Lewis, & Mero, 2011). Untuk mempermudah para pendidik dalam memanfaatkan learning platform, pendidik diberikan panduan untuk memanfaatkan learning platform secara bijak. Selain itu, pendidik diharapkan mampu memilah komponen dari learning platform yang dapat memaksimalkan apa yang sudah mereka lakukan selama ini.

Akses fleksibel yang ditawarkan oleh learning platform ini tentunya membantu para pendidik dan peserta didik untuk memiliki akses kapanpun dan di manapun yang tidak terbatas, memotivasi dan memiliki keterlibatan yang terjalin dalam learning platform, meningkatkan kepercayaan diri peserta didik yang lebih pasif, dan melakukan diskusi secara online yang dapat dilakukan di luar jam pembelajaran (Jacobsen & Kremer, 2000; Selinger, 1997)

b. TIK sebagai Sistem Pengelolaan Informasi

Dengan bantuan teknologi, pengelolaan informasi menjadi semakin mudah. Dalam penerapannya di institusi pendidikan, sistem pengelolaan informasi ini membantu para pendidik dan peserta didik untuk mendapatkan, menyimpan, memanipulasi, dan menggunakan informasi dan data (UK Trade & Investment, 2014). Informasi yang didapatkan pun dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti riset.

c. E-assessment

Sebagai bagian dari kebijakan Department of Education, e-assessment juga diterapkan dalam praktek e-learning di sekolah juga pendidikan tinggi (JISCinfonet, 2006). Menurut Bull dan McKenna (2004), penerapan e-assessment dapat meningkatkan motivasi peserta didik untuk meningkatkan keterampilan mereka, memperluas cakupan pengetahuan yang dinilai, meningkatkan efisiensi administratif, mengurangi beban pendidik untuk melakukan penilaian, juga meningkatkan objektivitas dalam penilaian. Selain itu, e-assessment dapat membantu para pendidik untuk mengevaluasi tingkat efektivitas dari ujian yang diberikan dengan bantuan data statistik yang disediakan oleh e-assessment, sehingga uji validitas dan realibilitas pun dapat dilakukan dengan lebih cepat (Nichol dan Milligan, 2006). E-assessment juga membantu tenaga pendidik dalam hal pembuatan test items, pengecekan validitas serta realibilitas test items, pengumpulan tugas secara elektronik, dan memberikan feedback yang lebih kepada para peserta didik. Di samping itu, pemeriksaan plagiarisme yang terkadang terjadi di institusi pendidikan pun dapat dilakukan dengan fasilitas e-assessment (Herd & Richardson, 2010).

Salah satu institusi yang mengajarkan keterampilan praktis dengan bantuan teknologi adalah National Extension College di Cambridge. Institusi ini memanfaatkan Open and Distance Learning (ODL) untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan keterampilan praktis. Metode ini cukup efektif namun, masih memerlukan pengawasan dari orang yang sudah ahli di bidangnya dan tentunya memerlukan peralatan yang akan digunakan (Sparkes,2015). Menurut beberapa ahli di bidang pendidikan, pemanfaatan Open and Distance Learning lebih sesuai untuk mengajarkan keterampilan kognitif (Oliveira & Rumble, 1992).

Integrasi TIK dalam Program Pendukung Sistem Pendidikan Vokasi

1. E-administrasi

Dalam fungsinya sebagai pendukung administrasi institusi, TIK dapat dikategorikan berdasarkan tujuannya, antara lain:

a. Akuntansi

Dalam hal ini, TIK berperan dalam pengelolaan dana, pembelian, aliran dana, proses audit, dan beragam manfaat akuntansi lainnya. Hal ini dapat membantu staf untuk memangkas waktu pengerjaan yang selama ini dilakukan secara konvensional.

b. Pemasaran

Setiap institusi tentunya memiliki program yang diunggulkan untuk menarik minat para calon peserta didik. TIK sangat membantu proses promosi program beserta materi yang ditawarkan oleh institusi.

c. Pelayanan administratif bagi staff

Sebuah institusi besar dengan jumlah staf yang tidak sedikit akan sangat menyulitkan pihak departemen sumber daya manusia untuk mengelola serta mengevaluasi kinerja para staf. Oleh karena itu, penerapan TIK dalam layanan administrasi yang diperuntukan bagi para staf sangatlah membantu. Layanan ini meliputi pengelolaan dan perkembangan sumber daya manusia yang mencakup proses rekrutmen, penilaian, pengawasan kinerja staf, berkomunikasi dengan staf, menganalisa kebutuhan mereka, serta pengadaan pelatihan bagi para staf.

d. Pelayanan administratif bagi peserta didik

Di samping pemanfaatan TIK untuk mempermudah administrasi bagi staf, pelayanan administratif bagi peserta didik pun sangat membantu dalam proses pendaftaran dan seleksi peserta didik baru. Selain itu, pembayaran biaya sekolah juga dapat dilakukan melalui portal yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi ini. Dengan adanya kemudahan ini, tidak hanya pihak siswa dan staf yang diuntungkan, orang tua pun dapat merasakan kemudahan yang ditawarkan.

e. Layanan pendukung

Layanan pendukung ini diperuntukan bagi para peserta didik agar dapat mengakses berbagai informasi melalui portal yang disediakan oleh pihak institusi pendidikan. Layanan pendukung ini meliputi akses email, informasi mengenai fakultas dan jurusan, kalender program, serta deskripsi modul yang ditawarkan sehingga peserta didik dapat memilih modul sesuai minat mereka.

f. Penelitian dan evaluasi

Analisis statistik, riset, evaluasi program serta penilaian peserta didik terhadap fakultas tempat mereka belajar dapat diakses dengan mudah dengan bantuan teknologi.

g. Inventaris

Sistem informasi yang digunakan dengan tujuan ini sangat membantu dalam mendata segala fasilitas yang dimiliki oleh sekolah. Selain itu, informasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja juga dapat disimpan dalam layanan ini. Sebagai tambahan, staf sekolah pun dapat mencantumkan informasi yang berkaitan dengan segala hal yang beresiko.

h. Penggalangan dana

Pemanfaatan TIK dalam hal penggalangan dana lebih mengarah pada pendataan dan penyimpanan riwayat donasi sehingga memudahkan pihak sekolah dalam pembuatan laporan tentang dana yang masuk.

2. Parental Reporting

Dari seluruh sekolah tingkat lanjut di Inggris, terdapat 77% sekolah (termasuk sekolah vokasi) yang menggunakan teknologi untuk melakukan parental reporting (Collie, Lewis, & Mero, 2011). Menurut BECTA (2004), keterlibatan orang tua melalui teknologi ini sangatlah bermanfaat. Orang tua dapat mengawasi anak-anak mereka serta dapat mengakses konten-konten yang dapat mendukung segala jenis tugas sepulang sekolah (BECTA, 2004). Selain itu, keterlibatan orang tua juga dapat meminimalisir segala hal yang berkaitan dengan penyimpangan tindakan dari anak dikarenakan orang tua dapat memonitor secara langsung kegitan, jadwal, hingga presensi anak.

Salah satu sekolah yang menerapkan parental reporting adalah The Technical School – East Kent College (www.eastkent.ac.uk). Sekolah ini memiliki portal khusus bagi orang tua untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan baik tentang sekolah, kegiatan, maupun perkembangan anak (East Kent College, 2017). BECTA (2004) pun menemukan dalam sebuah studi kasus bahwa para orang tua merasa lega karena dapat terlibat langsung dalam pembelajaran anak-anak mereka juga mendapatkan informasi tertentu dari pihak sekolah.

3. Bimbingan Karier

Dalam pendidikan vokasi, bimbingan karier (BK) merupakan sesuatu yang sangat esensial (Bab selanjutnya akan membahas BK dengan lebih rinci) Pemanfaatan TIK dalam bimbingan karier memiliki peran yang cukup penting. BECTA (2001) merekomendasikan beberapa software dan website yang memiliki beberapa spesifikasi fungsi, antara lain:

a. Database informasi

Database ini memuat beragam data yang berkaitan dengan pekerja-an, pelatihan, peluang pekerjaan, informasi data sensus dan bursa kerja. Dengan bantuan database ini, peserta didik diharapkan akan mampu untuk lebih mudah menemukan informasi pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian mereka.

b. Evaluasi diri, generator ide, program penyesuaian

Software yang masuk dalam kategori ini menyajikan ide-ide pelatihan dan pendidikan sesuai dengan kriteria pribadi peserta didik. Di samping itu, software jenis ini mampu mencocokkan pekerjaan dengan persyaratan khusus yang dibutuhkan.

c. Simulasi kerja

Decision making, problem solving dan team building dapat dirasakan oleh pengguna software jenis ini yang didesain untuk memenuhi kebutuhan pengguna secara umum dan tidak hanya merujuk pada kebutuhan karier dan pekerjaan. Selain itu, simulasi yang dilakukan akan sangat membantu para peserta didik untuk benar-benar merasakan segala tuntutan dalam dunia kerja.

d. Checklist dan tes psikometris

Software dalam kategori ini biasa digunakan untuk mengukur kemampuan, minat dan kepribadian para peserta didik. Dengan mengetahui kemampuan, minat dan kepribadian mereka, diharapkan mereka akan mampu mencari jenis pekerjaan yang sesuai.

e. Bantuan presentasi

Software jenis ini didesain khusus untuk membantu para peserta didik untuk mengasah kemampuan mereka dalam mencari pekerjaan dan beradaptasi dalam masa transisi. Selain itu, dengan software jenis ini, diharapkan para peserta didik akan mampu meningkatkan kemampuan mereka dalam proses wawancara, pengisian formulir atau dokumen yang diperlukan, pembuatan perencanaan tindakan, riwayat prestasi dan CV.

f. Generic package

Generic package merupakan sebuah software yang mencakup database package, desktop publishing package, computer-aided design package, web page editors, dan software lainnya yang berfokus pada pengolahan kata, data dan presentasi. Software jenis ini tergolong software yang cukup mahal, namun dapat dikatakan se-bagai software standar untuk mendukung seluruh kegiatan yang sudah diprogram dalam kurikulum. Selain itu, software jenis ini juga memberikan beragam kemudahan untuk mendukung program pendidikan karier.

g. Sumber daya karier dalam website

Pemanfaatan berbagai website dalam bimbingan karier pendidikan vokasi disebutkan dapat menghemat waktu pencarian jenis pekerjaan yang berhubungan dengan kualifikasi peserta didik. Selain itu, jenis website seperti ini mampu menyajikan informasi tentang peluang pekerjaan berdasarkan topik yang diminati. Salah satu website yang saat ini sering dimanfaatkan baik oleh pihak sekolah juga siswa, adalah Learndirect.com. Learndirect merupakan website pertama yang diperkenalkan pada masyarakat Inggris yang bermula dari jaringan telepon pada tahun 1998 (Watts, 2001). Hingga saat ini, Learndirect sudah mengintegrasikan penggunaan website, telepon, dan email untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pengunjungnya.

Perkembangan TIK terbaru dalam Pendidikan di Inggris

Beberapa perkembangan TIK seperti Virtual Reality(VR), Augmented Reality (AR) serta Internet of Things (IoT) juga mulai memiliki peran dalam pendidikan di Inggris. Meskipun penggunaannya belum dapat dikatakan merata di seluruh sekolah di Inggris, namum komitment pemerintah Inggris, perusahan swasta, yayasan nirlaba, dan universitas turut meningkatkan penggunaannya di sekolah.

1. Virtual Reality

Virtual Reality (realitas maya) adalah sebuah teknologi simulasi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan lingkungan yang berada di dalam dunia maya. Tahun 2016 perusahan Google memperkenalkan VR kepada 1 juta murid di Inggris sebagai bagian dari inisiatif pembelajaran dengan metode baru. Selain itu juga dibangung pusat pelatihan VR untuk para guru-guru di berbagai kota (Arnass, 2016). Penggunaan VR di sekolah pun kemudian semakin meningkat.

Menurut Graeme Lawrie, Direktur Inovasi di Savenoaks School, VR adalah cara pembelajaran sangat interaktif dan menyenangkan. Murid-murid bisa melakukan berbagai perjalanan virtual seperti mengeksplorasi dasar laut, melihat apa yang ada di dalam otak manusia, dan lainnya (Savenoaks School, 2016). Sementara itu, menurut Ian Rist, Instruktur kelistrikan di Prospect College of Advanced Technology, VR dapat membantu murid-murid untuk melakukan instalasi listrik dan test sirkuit listrik tanpa membahayakan murid-murid (Lihat Gambar 1). Ketika murid-mu-rid sudah mahir, barulah kemudian mereka dapat melakukan praktek secara langsung (PROCAT, 2017).


2. Augmented Reality

Augmented Reality (realitas tertambah) adalah teknologi yang meng-gunakan alat bantu (contoh: telepon genggam dan tablet) dalam memproyeksikan benda maya ke dalam lingkungan nyata. AR dapat menjadi cara yang menyenangkan dalam memberikan ilustrasi penggunaan tehnik yang tepat pada sebuah benda atau menunjukkan bentuk model, bangun ruang, dan lainnya (Hesmondhalgh, 2017). Gambar 2 di bawah memperlihatkan contoh penggunaaan teknologi AR dalam pembelajaran interaktif tentang senyawa kimia.


Meskipun belum menyeluruh, tapi penggunaan AR sudah digunakan di berbagai sekolah di Inggris. Salah satu sekolah yang mendapatkan good practice dalam penggunaan AR oleh Ofsted (lihat bab 3 tentang Penjaminan Mutu Ofsted) adalah Shrewsbury College. Penggunaan AR yang menyeluruh mulai dari pengajaran, pembelajaran, dan assessment dapat dilihat di sini. Seperti QR code, dengan menggunakan aplikasi AR di telepon genggam mereka, murid-murid dapat menscan kode AR dan mendapatkan tambahan informasi yang mendalam dalam bentuk gambar, video, dan lainnya. Contohnya, dalam pembelajar mengecat pintu, murid-murid dapat melihat video proses pengecatan yang benar dalam bentuk AR (Ofsted, 2015).

Selain Shrewsbury College, ada jugaSouth Staffordshire Collegeyang memproduksi video dengan teknologi AR dalam pembelajaran pemotongan batu bata. Teknologi ini berhasil meningkatkan jumlah pemotongan batu bata yang tepat oleh peserta didik dari 40% menjadi 90% (Bloxham, 2013).Contoh lain adalah Bradford College juga menggunkan teknologi AR dalam pelajaran mengelas, sehingga siswa dapat melatih kemahiran las mereka dengan lebih aman (Bradford College, 2017).

Menurut Hicham Alaoui dari Lead City College, penggunaan AR dapat meningkatkan pencapaian akademis. Partisipasi aktif murid dalam proses belajar membantu mereka untuk mengingat apa yang telah dipelajari (Oakman, 2016).

3. Internet of Things (IoT)

IoT adalah sebuah konsep di mana benda-benda yang sering dipergunakan dalam keseharian (contoh: telepon genggam) dihubungkan pada satu jaringan, yang mana data dari jaringan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya. Pertimbangan-pertimbangan dalam penerapan IoT biasanya menyangkut tentang kepercayaan, keamanan, perlindungan data pribadi, kejelasan manfaat dari penggunaan data, dan peraturan yang jelas dalam pengimplementasiannya (Government Office for Science, 2014).

Untuk menjadi negara yang mempimpin dalam hal IoT, Inggris menyadari perlunya pengimplementasian IoT di berbagai bidang, termasuk pendidikan.

CSE Education system, badan independen penyedia jaringan teknologi di Inggris, menyatakan bahwa penggunaan IoE dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk hal-hal seperti pencatatan daftar hadir, pengadaan materi belajar, hingga pembelian kebutuhan sekolah (lihat Gambar 1 di bawah).

Pada tahun 2013, kerja sama senilai £800,000 (setara Rp 1,5 milyar) antara perusahaan swasta, pemerintah Inggris dan universitas meluncurkan proyek DISTANCE (Demonstrating the Internet of School Things – a National Collaborative Experience). 8 sekolah dipilih untuk percobaan pengimplementasian pembelajaran tentang cuaca dengan IoT di sekolah (ScienceScope, 2015). Sejak proyek DISTANCE berlangsung, banyak sekolah-sekolah di Inggris yang kemudian mengimplementasikan IoT di sekolah.

Selain penggunaan IoT dalam pembelajaran. IoT juga dapat digunakan untuk membantu siswa di luar ruang kelas. Kompetisi Longitude Explorer Prize yang diselenggarakan oleh Yayasan Nesta mendukung pengembangan IoT oleh murid-murid di sekolah. Tahun 2017, kebanyakan peserta lomba mennggunakan teknologi IoT untuk menangani masalah kesehatan mental (Nesta, 2017a). Adapun pemenang kompetisi tahun 2017 adalah murid-murid Southland School yang mengembangkan teknologi wearable (dapat dipakai) yang dapat berganti warna untuk merefleksikan emosi pemakai. Teknologi ini diharapkan dapat membantu murid dengan Autistic Spectrum Disorder untuk mengekspresikan perasaan mereka (Nesta, 2017b).

Kesimpulan dan Pembelajaran

Pendidikan di Inggris sangat memanfaatkan sarana Web 2.0 dalam mana-jemen pendidikan, pembelajaran peserta didik, pengadaan sumber daya dan literatur, serta social networking (Herd & Richardson, 2010). Pada dasarnya, pemanfaatan sarana Web 2.0 ini sangat membantu terlaksananya berbagai program yang sudah dilakukan oleh institusi selama ini. Selain itu, secara tidak langsung, ketika peserta didik terbiasa dengan penggunaan TIK dalam pembelajaran mereka, kemampuan mereka dalam mengoperasikan TIK (digital literacy) juga terasah. Digital literacy ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik ketika akan terjun ke dunia kerja dalam era digital ini.

Namun, beberapa kendala dalam usaha mengintegrasikan TIK dengan pendidikan masih perlu diperhatikan. Salah satunya, kendala dalam memberikan pelatihan keterampilan praktis dapat ditanggulangi dengan menerapkan blended learning yang sudah cukup dikenal di Indonesia. Blended learning dianggap mampu memaksimalkan peran dari masing-masing fungsi pembelajaran, baik secara konvensional maupun secara digital. Blended learning merupakan kombinasi antara pembelajaran face-to-face di dalam kelas dan pembelajaran secara online. Pembelajaran jenis ini dipercaya dapat mempermudah tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu, fleksibilitas yang ditawarkan oleh blended learning sangat mampu memfasilitasi peserta didik yang beragam. Selain blended learning, pemanfaatan VLE (Virtual Learning Environment) tampaknya dapat memberikan kontribusi besar dalam kemajuan pendidikan vokasi di Indonesia.

Walaupun penerapan TIK sudah cukup banyak diterapkan, tingginya kesenjangan pendidikan yang ada di Indonesia menyebabkan kurang optimalnya hasil yang didapatkan. Selain itu, kesiapan dari segi sumber daya manusia, pendanaan, fasilitas penunjang di sekolah, juga kebijakan yang mengatur penerapan TIK ini masih perlu banyak perbaikan. Jika melihat fakta di lapangan, masih banyak pendidik yang kesulitan dalam menggunakan teknologi di sekolah. Kondisi ini tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk motivasi belajar kembali dan minimnya pelatihan yang diberikan oleh pihak pemerintah terkait. Oleh karena itu, di samping tingginya permintaan akan penerapan teknologi di sekolah, kebijakan yang diterapkan untuk mewujudkan integrasi yang memberikan hasil optimal dan berkesinambungan haruslah melalui pemikiran serta pengkajian lebih mendalam akan realita di lapangan. Adanya acuan yang jelas seperti yang telah diberikan BECTA pada pendidikan vokasi di Inggris tentu sangat membantu tercapainya penerapan TIK yang maksimal.

Secara umum, kendala yang dihadapi dalam proses penerapan TIK dalam Pendidikan vokasi terletak pada pemilihan tipe integrasi, desain materi dan domain pembelajaran apa yang menjadi target dari program integrasi ini (Yasak & Alias, 2015). Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, beberapa keterampilan praktis masih memerlukan tenaga ahli untuk mendampingi dan mengawasi proses pembelajarannya. Di Indonesia, terhitung hingga tahun 2015, masih banyak tenaga pendidik yang masih belum menguasai perangkat TIK dengan baik dan 12% dari keseluruhan tenaga pendidik masih memiliki kualifikasi akademik di bawah standar (Kemendikbud, 2016). Fakta ini menunjukkan ketimpangan dalam pendidikan vokasi di Indonesia mengingat jumlah jurusan paket keahlian bidang studi TIK di Indonesia mencapai 6,724 pada tahun 2015 (Kemendikbud, 2015 dalam Kemendikbud, n/a). Jumlah tersebut belum termasuk bidang keahlian lain yang juga sudah mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajarannya. Oleh karena itu, sumber daya manusia yang memenuhi kualifikasi akademik dan penguasaan perangkat TIK merupakan hal utama yang perlu diperhatikan.

Oleh Navila Roslidah dan Dorothy Ferary

Dalam buku “Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris”


Sumber: Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London 2018



Kontributor:

Thumb unnamed