Rencana Strategis Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan 2015-2019 merupakan suatu kesinambungan dari pembangunan yang dilakukan pada periode sebelumnya. Sejalan dengan tema pembangunan pendidikan jangka panjang 2005-2024, pembangunan SMK diarahkan pada peningkatan daya saing internasional sebagai pondasi dalam membangun kemandirian dan daya saing bangsa dalam menghadapi persaingan global ke depan.

Pembangunan SMK ke depan tidak dapat dilepaskan dari berbagai upaya yang telah dilakukan pada periode sebelumnya. Berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah (khususnya Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan) bersama dengan pemangku kepentingan lainnya seperti: 1. Beasiswa; 2. revitalisasi sarpras; 3. pembelajaran berbasis TIK; 4. pengembangan teaching industry; 5. penambahan guru produktif; 6. kemitraan dengan Perguruan Tinggi; 7. kemitraan dengan industri; 8. penambahan RKB/USB; dan 9. peningkatan citra SMK, telah menghasilkan sejumlah capaian sebagai dampak langsung berbagai upaya perbaikan tersebut.

Dalam periode 5 tahun, pertumbuhan populasi SMK mencapai lebih dari 3.000 SMK baru yang secara langsung berkontribusi pada pertumbuhan siswa sekolah menengah dan khususnya siswa SMK sebesar lebih dari 1 juta siswa. Dengan pertumbuhan yang signifikan terebut konfigurasi siswa SMA dibandingkan dengan SMK bergeser dari 60% siswa SMA : 40% siswa SMK menjadi 49% siswa SMA : 51% siswa SMK. Kondisi ini sejalan dengan kebutuhan bangsa Indonesia yang hingga saat ini harus memperbaiki struktur tenaga kerja yang selama ini dominan pendidikan dasar menjadi pendidikan menengah. Dengan meningkatnya calon tenaga kerja yang berasal dari SMK, Indonesia tidak saja mendapat lebih banyak calon tenaga kerja yang berasal dari pendidikan menengah namun mendapatkan pula calon tenaga kerja yang siap pakai. Namun demikian kinerja pembangunan tersebut belum membuat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan berpuas diri karena masih banyak hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan ke depan. Berikut dijabarkan perkembangan populasi SMK saat ini.

PERKEMBANGAN POPULASI SMK

Hingga awal tahun 2015, jumlah SMK di Indonesia sudah mencapai 12.696 sekolah dengan jumlah siswa mencapai 4,33 juta siswa. Dengan populasi yang demikian besarnya, seluruh SMK tersebut memberikan layanan pendidikan kepada 143 ribu rombongan belajar atau 11,27 rombel per SMK atau rata-rata 3 rombel per tingkat dengan total paket keahlian yang dibuka di SMK mencapai 33.000 paket atau rata-rata 3 paket keahlian per SMK.

Bila ditinjau dari jumlah siswa per rombel, saat ini SMK mencapai 1 rombel banding 30.27 siswa atau sudah lebih tinggi dari batas ideal dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) yaitu 1 rombel banding 32 siswa. Partisipasi masyarakat dalam pengembangan SMK sangatlah tinggi. Dari total populasi SMK yang ada saat ini 73,9% adalah SMK yang didirikan oleh masyarakat dan hanya 26,1% yang didirikan oleh pemerintah.

Tingginya minat masyarakat dalam mendirikan SMK seperti dijelaskan sebelumnya ternyata belum secara signifikan mendorong minat lulusan SMP/MTs masuk ke SMK swasta atau yang diselenggarakan oleh masyarakat. Hal ini dijelaskan pada gambar 1.5 distribusi jumlah siswa berdasarkan jenis status penyelenggaraan SMK.

Fakta yang menarik adalah dengan populasi SMK negeri yang hanya 25,8% dari total SMK pada tahun 2013, jumlah siswa SMK mencapai 40,3%. Dengan populasi siswa yang jauh lebih besar dari pada distribusi sekolah membuat rata-rata SMK negeri memiliki rata-rata siswa mencapai lebih dari 530 siswa per sekolah atau 14,9 rombel per sekolah (5 rombel per tingkat). Sementara SMK swasta hanya memiliki rata-rata siswa 278 siswa per sekolah atau 7,7 rombel per sekolah.

Situasi ini perlu dicermati lebih lanjut karena pengembangan SMK negeri baru di setiap provinsi belum tentu berdampak pada peningkatan akses pendidikan menengah namun yang terjadi adalah penurunan minat lulusan SMP/MTs masuk ke SMK swasta dan lebih memilih masuk ke SMK negeri. Dampak yang terjadi adalah banyak SMK swasta yang justru kekurangan siswa atau bahkan berpotensi tutup atau “mati” dikarenakan kesulitan menarik siswa.

Secara umum di seluruh provinsi menunjukan fenomena yang sama dengan kondisi nasional. Dengan demikian pemerintah menyadari bahwa penyediaan SMK baru perlu dikaji lebih jauh implikasinya terhadap serapan lulusan SMP/MTs di setiap wilayah untuk mencegah minimnya peningkatan akses masyarakat ke pendidikan SMK dikarenakan kalah bersaingnya SMK swasta dibanding dengan SMK negeri.

Fakta menarik lainnya ditunjukkan pula pada sebaran siswa berdasarkan bidang keahlian yang diambil seperti ditunjukan pada Gambar 1.7. Jika kita perhatikan tren dari 2010-2013 dapat diketahui bahwa terdapat tren menurun hamper pada setiap bidang keahlian kecuali bidang keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Bidang Keahlian Kesehatan dengan peningkatan ± 1-2% per tahun. Kenaikan animo lulusan SMP/MTs terhadap bidang TIK dan kesehatan ini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan pasar terhadap lulusan SMK bidang TIK dan kesehatan yang semakin meningkat.

Tren siswa SMK bidang keahlian Agribisnis dan Agroindustri mengalami tren yang konstan dari tahun 2010-2013. Pertumbuhan yang konstan ini menandakan bahwa potensi pertanian Indonesia belum menarik bagi lulusan SMP/MTs. Oleh karena itu, perlu adanya perlakuan khusus untuk meningkatkan animo tersebut mengingat bahwa Indonesia masih sangat kekurangan tenaga terampil bidang keahlian Agribisnis dan Agroindustri.

Sedangkan tren pertumbuhan menurun tampak pada bidang keahlian seni, Kerajinan dan Pariwisata; Bisnis dan Manajemen; dan Teknologi dan Rekayasa. Tren turun yang sangat signifikan terjadi pada bidang keahlian Bisnis dan Manajemen sejak tahun 2010 – 2013 turun sebesar hampir 5%. Penyebab penurunan tersebut diantaranya pasar sudah mulai jenuh dengan lulusan bisnis dan manajemen dan juga adanya dampak dari proses reengineering yang dilakukan di SMK yang bertujuan untuk menyesuaikan kembali distribusi bidang-bidang keahlian di SMK sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pada setiap tahunnya sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2014 terdapat hampir 500 ribu lulusan SMP/MTs yang tidak dapat tertampung masuk ke SMK. Hal ini disebabkan masih terbatasnya daya tamping SMK dibandingkan dengan animo masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke SMK. Oleh karena itu penambahan daya tampung masih dianggap perlu ditingkatkan tanpa harus mengalahkan peningkatan mutu SMK itu sendiri.

Dengan berbagai karakteristik di atas, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan harus menciptakan formulasi strategi kebijakan yang sesuai agar seluruh SMK dapat dikembangkan dengan baik sehingga dapat berkontribusi maksimal dalam memajukan pendidikan menengah di Indonesia

Sumber: Rencana Strategis Direktorat Pembinaan SMK 2015 - 2019



Kontributor:

Placeholder