Dewasa ini gerakan mendidik melalui keteladanan sedang bersemi kembali. Di mana-mana disuarakan pentingnya keteladanan. Tak sedikit pula sekolah-sekolah yang mengikrarkan gerakan keteladanan.

Gerakan ini sepatutnya mendapat acungan jempol. Sebagaimana kita ketahui, keteladanan di Indonesia amat rendah. Pejabat dan tokoh masyarakat banyak yang mengabaikan hal penting ini. Padahal keteladanan adalah salah satu kunci kesuksesan pendidikan. Pelajar kebanyakan meniru tingkah polah gurunya. Tidak salah jika peribahasa mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. “

Buku Wisdom of Dahlan Iskan ini seakan menjadi oase di tengah keringnya kisah-kisah keteladanan. Kata-kata bisa berarti sangat besar, bahkan mampu menggugah seseorang hingga melakukan perbuatan yang tidak dapat diduga. Sosok Dahlan Iskan sungguh fenomenal untuk dikisahkan. Kutipan kata-katanya bermakna dan relevan dalam mendidik karakter bangsa yang mengalami penurunan. Jauh sebelum Presiden Jokowi mendengungkan motto “Kerja, kerja dan kerja“, Dahlan Iskan sudah memulainya terlebih dahulu. Dahlan adalah sosok pekerja keras, dia mewarisinya dari sosok ayahnya yang juga pekerja keras (hlm. 51).

Buku ini kaya akan kisah-kisah pendidikan jurnalistik yang mampu menggugah semangat menulis. Dikisahkan dalam artikel Kiat Kerja Jurnalistik (hlm.34), Dahlan mengajarkan kepada wartawannya agar jangan mengabaikan pentingnya deskripsi dalam menulis berita. Dalam hal ini, Dahlan menasehati, “Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri suatu kejadian.“

Dalam artikel Menaklukkan Sang Waktu (hlm. 25), misalnya dikisahkan sosok Dwo, wartawan Jawa Pos Biro Jakarta. Dikisahkan perjuangan Dwo untuk mengurus paspor dan visanya dalam waktu 1 hari sebelum keberangkatan ke Jepang. Sungguh dramatis! Dwo yang sempat mengalami rasa putus asa akhirnya terpacu untuk melawan waktu. Senada dengan motto Dahlan Iskan: “Dalam dunia korporasi, kecepatan merupakan hal penting, karena banyak kesempatan yang hilang jika kita tidak cepat meraihnya.“ Setelah melalui perjuangan panjang yang berliku akhirnya Dwo berhasil memperoleh paspor dan visa ke Jepang (hlm. 33). Pesan mendidik yang bisa ditangkap adalah melalui perjuangan dan kerja keras, hal mustahil sekalipun pasti dapat dilakukan.

Buku ini juga banyak dibumbui oleh kutipan-kutipan terkenal dari Dahlan Iskan. Salah satunya “Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat“ (hlm. 20). Yang bisa diartikan ketika kaya tidak sewenang-wenang dan ketika miskin tidak sampai menjual diri dan jabatan. Selain itu ada juga kutipan yang mendidik jiwa entrepreneurship. Dahlan mengatakan “Untuk menjadi pengusaha sukses, seseorang tidak boleh ragu menghadapi bisnis, apalagi takut bangkrut“ (hlm. 47). Dahlan juga menambahkan: “Dalam dunia korporasi, kecepatan merupakan hal penting, karena banyak kesempatan yang hilang jika kita tidak cepat meraihnya“ (hlm. 57). Kendatipun banyak kutipan, hal ini tidak sampai menganggu nikmatnya membaca buku ini. Justru hal tersebut menjadi kelebihan tersendiri karena kutipan-kutipan itu seolah-olah menjadi sumber energi baru karena kandungan motivasi di dalamnya.

Buku ini terdiri atas empat bab, yakni kerja...kerja..kerja, Mengalir dengan Deras, Menyalip di Tikungan dan The Problem Solver. Diakui pihak penerbit dalam kata pengantarnya, buku ini menjadi salah satu pencerahan dari berbagai cobaan dan tantangan kehidupan ini. Pentingnya kata-kata filosofis yang sarat makna juga banyak disampaikan di dalam buku ini.

Daya pikat buku ini terletak pada kekuatan bercerita Dahlan Iskan selama menjadi wartawan Tempo, Pemilik grup Jawa Pos dan Menteri BUMN. Dengan penyampaian yang lugas tanpa bertele-tele, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang pendidikan, suku, agama dan usia.

Sumber: Buku karya Soedarsono yang berjudul Wisdom of Dahlan Iskan, resensi buku ditulis oleh Heri Yudianto



Kontributor:

Thumb img 20170724 070911