Sejak selesai menjabat Rektor Unesa (2010-2014) saya ingin sekali kembali ke dunia akademik. Dunia yang sudah sekitar delapan tahun saya tinggalkan sejak menjadi Pembantu Rektor 4, menjadi Direktur Ketenagaan, dan terakhir menjadi Rektor. Jika sebelumnya saya sering terlibat dalam penelitian dan kegiatan akademik lainnya, saat menjabat di birokrasi waktu untuk itu hampir tidak ada. Paling banter hanya ikut seminar. Buku yang saya belipun seringkali tidak sempat terbaca tuntas.

Pada 30 Juni 2015, kerinduan itu mendapat pintu, karena saya mengikuti seleksi proposal penelitian IDB di Unesa. Saya lebih gembira karena reviewernya bukan dosen Unesa, tetapi satu orang dari Universitas Malang dan satu orang dari Universitas Jember. Jika reviewernya dari Unesa mungkin saling segan. Reviewer mungkin sungkan menguji saya, karena pernah menjadi rektor dan ikut mencarikan dana IDB. Saya juga sungkan, masak mantan rektor kok ikut kompetisi proposal yang diuji oleh orang Unesa sendiri.

Saya juga sangat gembira ketika gagasan yang saya ajukan mendapat respons positif, walaupun belum tentu diterima. Saya mengajukan proposal penelitian tentang Pengembangan Model Pendidikan Guru di Era Digital. Saya jelaskan bahwa sa ya pernah memberi kuliah dan ada mahasiswa yang sibuk membaca laptop. Ketika saya tanya apa yang sedang dibaca, mahasiswa tersebut menjawab sedang membaca topik yang saya jelaskan, tetapi dari sumber lain. Dia menjelaskan ada teori lain yang berbeda dengan apa yang saya jelaskan.

Saya sangat senang dengan respons mahasiswa tersebut dan kemudian saya minta dia menjelaskan apa yang dia baca. Sungguh mengagetkan, ternyata sudah membaca dua sumber ketika saya menjelaskan dalam kelas itu. Saya membayangkan kalau semua mahasiswa seperti dia, maka dosen tidak perlu panjang lebar menerangkan dengan lisan. Saya menduga era digital yang kini melanda generasi muda akan membuat mahasiswa yang berperilaku seperti mahasiswa tadi semakin banyak.

Nah, kalau sudah banyak mahasiswa yang seperti itu tentu pola perkuliahan model ceramah tidak cocok lagi. Ji ka ada dosen yang masih bertahan, dapat saja mahasiswa nggerundel, “lha kalau itu sih saya bisa baca sendiri.” Atau malah berguman, “lha itu sih teori kuno, nih yang lebih baru dapat dibaca di web ini.”

Sekarang juga sudah berkembang MOOC (massive open online courses), di mana bahan kuliah dapat diakses secara bebas di internet. Siapa saja dapat membaca bahan kuliah perguruan tinggi besar, seperti Harvard, MIT, dan sebagainya. Nah, kalau bahan kuliah dapat diperoleh dengan mudah, apa dosen masih perlu menerangkan secara detail? Apa tidak bisa, langsung memulai dengan problem based, yaitu memberikan masalah yang harus dipecahkan secara bersama?

Saya menduga pengalaman saya ketika memberi kuliah tadi juga dialami oleh teman-teman guru. Bukankah anak-anak sekarang, mulai dari siswa SD, sudah terbiasa dengan gawai (gadget)? Bukankah mereka justru lebih pandai dari kita, karena konon mereka itu “native” sementara kita ini “imigran” dalam dunia gawai. Jadi yang memerlukan perubahan pola tidak hanya perkuliahan, tetapi juga pembelajaran di sekolah.

Jika demikian, berarti kompetensi guru atau dosen juga harus dipikirkan kembali. Jika guru dan dosen harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan model problem based, tentu memerlukan bekal yang berbeda dengan model yang sekarang ini berjalan. Jika problem yang ingin dipecahkan adalah sesuatu yang kontekstual dengan lingkungan dan lintas disiplin, maka bekal dosen tentu juga harus seperti itu.

Lebih lanjut fokus pada guru, jika kita memerlukan perubahan kompetensi guru agar mampu mengasuh pem belajaran di era digital ini, tentu pola pendidikan guru juga harus berubah. Itulah yang saya ajukan untuk diteliti dan dikembangkan. Seperti apa modelnya? Saya sendiri belum tahu, karena masih akan diteliti selama dua tahun, yaitu tahun 2016 hingga 2017 dan insyaAllah bekerja sama dengan rekan di Bremen University Jerman.

Oleh Muchlas Samani

Dalam buku “Semua dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?”



Kontributor:

Thumb unnamed