Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu. (Ali Bin Abi Thalib)

”Tidak ada fenomena dalam kehidupan yang dapat dijelaskan melalui satu bidang ilmu secara tuntas. Selalu butuh beberapa bidang ilmu untuk menganalisisnya. Oleh karena itu, siswa perlu berlatih membedah suatu fenomena yang terjadi di sekitar sekolah dengan menggunakan referensi berbagai mata pelajaran secara komprehensif.”

Mengapa isi pendidikan sering tertinggal jauh dari tuntutan kehidupan? Pertanyaan ini merisaukan banyak orang, termasuk Tony Wagner. Lalu dia mengadakan serangkaian riset dan hasilnya dituangkan dalam buku bagus berjudul The Global Achivement Gap (2008). Dalam buku itu Wagner mengajukan statemen betapa pentingnya the survival skills (meliputi critical thinking and problem solving, collaboration across network and leading by influence. Agility and adaptability, initiative and entrepreneurialism, effective oral and written communication, accessing and analyzing information dan curiosity and imagination).

Dua tahun berikutnya muncul lagi buku 21st Century Skills karya Bernie Trilling & Charles Fadel, yang nadanya sangat mirip yaitu menggugat bahwa pendidikan saat ini sudah usang dan harus diubah. Trilling dan Fadel mengajukan tiga skills tang harus ditumbuhkan di sekolah, yaitu learning and innovation skill yang terdiri dari creativity and innovation, critical thinking and problem solving, communication and collaboration, digital literacy skills ynag mencakup information literacy, media literacy, ICT literacy dan career and life skills yang mencakup flexibility and adaptability, initiative and self direction, soial and cross cultural skills, productivity and accountability, leadership and responsibility.

Mengapa pendidikan saat ini dianggap usang dan digugat tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan di masyarakat? Bukankah pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak didik, sehingga siap menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata? Apakah kita salah dalam merancang pendidikan, sebagaimana diungkap oleh Charles Handy dalam artikelnya Finding Sense in Uncertainty?

Sebenarnya hal diatas sudah pernah didiskusikan secara intens pada tahun 2002an dan bahkan diera Mendiknas Pak Malik Fajar pernah diterbitkan naskah berjudul Kecakapan Hidup (Life Skills). Naskah itu intinya menjelaskan bahwa kita harus melakukan perubahan paradigm dalam merancang pendidikan. Pendidikan bukan diarahkan untuk mengumpulkan pengetahuan/informasi semata, tetapi harus diarahkan untuk mengembangkan life skills. Dengan life skills diharapkan anak didik mampu menghdapai dan mengarungi kehidupan dengan baik.

Diera informasi sekarang ini, informasi dapat diperoleh dengan mudah lewat berbagai sumber. Kini berkembang kelakar, kalau ingin dapat informasi Tanya saja kepada Mbah Google. Artinya internet dapat memberi segala informasi yang diperlukan. Oleh karena itu, aspek life skills yang perlu dikembangkan adalah kecakapan menggali informasi dari berbeagai sumber, mengalisisnya secara kritis untuk memecahkan masalah secara kreatif dan bijak. Iptek berkembang secara cepat, sehingga sangat mungin apa yang dipelajari sekarang akan segera usang, oleh karena itu belajar secara mandiri (selflearning, selfdirection dan initiative) harus dikembangkan dalam pendidikan.

Dalam praktik kehidupan, tidak ada fenomena yang dapat dijelaskan melalui satu bidang ilmu secara tuntas. Selalu diperlukan beberapa bidang ilmu untuk menjelaskan atau menganalisisnya. Oleh karena itu, siswa perlu berlatih membedah suatu fenomena yang terjadi di sekitar sekolah dengan menggunakan referensi berbagai mata pelajaran secara komprehensif. Pola ini merupakan hal baru tetapi perlu dimulai. Selama ini siswa belajar mata pelajaran secara terpisah, seakan tidak ada hubungan satu dengan yang lain.

Dalam kehidupan, di dunia kerja maupun dalam kehidupan keseharian, seseorang selalu berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Bahkan ke depan bekerja dalam tim merupakan pola kerja yang semakin kental. Oleh karena itu pendidikan harus mengembangkan aspek social skills, yang intinya kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Semoga.

Oleh: Muchlas Samani

Dalam buku “Semua dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?”



Kontributor:

Thumb unnamed