Reformasi dalam sistem pendidikan vokasi di Inggris selalu menekankan pembelajar sepanjang hayat atau Lifelong learning. Menurut pusat informasi pendidik-an kejuruan dan keterampilan negara-negara di Eropa /The European Centre for the Development of Vocational Training (Cedefop), walaupun banyak tan-tangan yang dihadapi, pemerintah Inggris tetap meng-upayakan reformasi sistem pendidikan demi mewujud-kan kebijakan jangka panjangnya terutama strategi Lifelong learning. Beberapa tujuan kebijakan tersebut antara lain adalah meningkatkan keterampilan dasar para pekerja, meningkatkan ketuntasan pendidikan, dan mengupayakan pemenuhan pendidikan keteram-pilan (Cuddy, N & Leney, T., 2005).

Sistem pendidikan vokasi yang berbasis pada tuju-an belajar sepanjang hayat di Inggris sudah ditekan-kan sejak tahun 1998 dengan dikeluarkannya ke-putusan Departemen Pendidikan dan Keterampilan /Department for Education and Skills (DfES) yang sejak tahun 2010 berganti nama menjadi Department for Education (DfE). Dalam peraturan tersebut disebutkan pentingnya slogan ‘Lifelong Learning’untuk secara umum menunjukkan nilai-nilai dan kebijakan tentang belajar sepanjang hayat dibawah aturan administrasi yang baru (Department for Education and Employment [DfEE], 1998).

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan dokumen Green paper yang berjudul The Learning Ageuntuk menunjukkan pentingnya pembel-ajar sepanjang hayat yang diatur oleh negara. Isi dari surat tersebut kurang lebih menekankan akan pentingnya kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing dalam bidang ekonomi di era globalisasi. Kemampuan tersebut merupakan kunci bagi sesorang untuk memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan bersaing di dunia kerja (1998, p.18). Target utama Lifelong learning dalam pendidikan vokasi adalah mewujudkan pengem-bangan keterampilan vokasional yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi, kehidupan sosial yang terbuka dan utuh (Hyland, 1999; Field & Liecester, 2000).

Program Lifelong Learning di setiap negara bagian berbeda-beda. Di negara bagian England, Wales, dan Irlandia utara, Lifelong learning banyak berhubungan dengan aktivitas belajar yang dilakukan pasca sekolah for-mal. Pada tahun 2001, National Assembly for Wales mengeluarkan dokumen penting/ Paving dokumen berjudul The Learning Country, merumuskan program pendidikan dan belajar sepanjang hayat bagi masyarakat Wales untuk target tahun 2010. The Learning Country meneruskan strategi sebelumnya dan menghasilkan agenda untuk tahun 2010. Sedangkan di Skotlandia, makna belajar sepanjang hayat ini lebih luas melalui slogannya ‘Cradle to Grave’ yang berarti belajar dari lahir hingga akhir hayat sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi setiap orang atau Education for all (Organization for Economic Co-operation and Development [OECD], 2003).

Menurut National Assembly for Wales (OECD, 2003; DfES, 2005), Lifelong learning dalam pendidikan vokasi di Wales memiliki program prioritas antara lain;

  • Peningkatan dan perluasan kesempatan belajar termasuk keterampilan dasar.
  • Pengembangan keterampilan dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas kerja melalui peningkatan kreatifitas, inovasi dan kegiatan usaha.
  • Peningkatan standar dalam belajar dan mengajar.
  • Program prioritas di atas dilaksanakan untuk mewujudkan agenda utama ketiga negara (Inggris, Wales dan Irlandia utara) yaitu:

  • Memastikan bahwa semua generasi muda dapat mendapatkan keterampilan utama agar siap menghadapi perubahan jaman, men-jamin keamanan dalam hidup, memperoleh banyak keuntungan dari kesejahteraan yang diperolehnya. Target utamanya adalah 90%pemuda berusia 22 tahun dapat mengikuti program pendidikan penuh yang sesuai dengan bidang keahlian mereka untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  • Menyediakan level keterampilan lebih tinggi yang diperlukan untuk inovasi bidang keilmuwan ekonomi, dengan target 50% pemudia usia dibawah 30 tahun dapat melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi pada tahun 2010.
  • Memastikan para masyarakat pada usia kerja dapat memiliki kete-rampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan dapat me-menuhi kebutuhan hidup mereka serta memperoleh penghargaan.
  • Meneruskan peningkatan standar belajar dan mengajar di seluruh jenjang pendidikan dan keterampilan.
  • Untuk memastikan kualitas calon siswa dan lulusan dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, pemerintah England, Irlandia utara dan Wales memiliki sebuah standar kualifikasi vokasional bernama The National Qualifications Framework (NQF) sejak tahun 2000 (lihat bab 2). Semua program pendidikan vokasi (TVET) mengikuti aturan ini ketika menyeleksi calon siswa.

    Kebijakan pendidikan vokasi di Skotlandia memiliki sistem yang paling berbeda dengan negara bagian lainnya. Skotlandia memiliki kebijakan khusus dalam mengupayakan belajar sepanjang hayat dengan slogan, Life through learning, learning through life. Kebijakan ini se-penuhnya merupakan wewenang the Scottish Executive Enterprise, and Lifelong Learning Department (OECD, 2003). Sedangkan untuk memastikan kualitas calon siswa dan lulusan, pemerintah Skotlandia mempunyai aturan sendiri bernama the Scottish credit and qualifications framework (SCQF) (lihat bab 2).

    Meskipun setiap negara memiliki aturan dan kebijakan sendiri tentang program Lifelong learning, ada beberapa prinsip aturan yang terpusat. Misalnya, Department for Education menyusun strategi ber-nama White Paper yang menentukan target dan strategi umum untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja dan menikmati hidupnya (OECD, 2003). Selain itu terdapat pula target nasional berlaku untuk semua negara bagian yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana masing-masing negara melaksanakan semua program Lifelong learning mereka. Target ini juga men-cakup standar tingkat partisipasi dan pencapaian para siswa pada bidang yang paling ditekuninya di sekolah melalui program pengembangan Life-long learning dan bisnis usaha (OECD, 2003).

    Pemerintah Inggrissangat menyadari akan tantangan jaman yang selalu berubah dan masa depan yang tidak pasti terutama bagi orang dewasa. Menurut Mike Campbell (2016), ada tiga komponen yang harus diwaspadai oleh pemerintah Inggris dalam menghadapi tantangan jaman: ketersediaan keterampilan (Skills supply), permintaan keterampilan (Skills demand) dan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar (Skills mismatch). Ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar ini terjadi ketika jumlah keterampilan yang tersedia tidak sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan/ diminta oleh pasar. Gambaran tentang kondisi orang terampil dewasa di Inggris dapat dilihat melalui survey ketenagakerjaan atau Labour Force Survey. Melalui survey ini, Bosworth (2014) dan Wilson, dkk (2016) memberikan analisa paling terkini yang menggambarkan gambaran pada tahun 2002, 2012 dan proyeksi pada tahun 2020. Analisa ini menunjukkan bahwa selama satu dekade, dari tahun 2002 hingga 2012, orang dewasa berusia 19 sampai 64 tahun memiliki keterampilan yang sangat tinggi dan diperkirakan akan mening-kat pada tahun 2020. Namun jika dibandingkan dengan 32 negara OECD lainnya, tingkat keterampilan orang dewasa pada tataran level tingkat bawah (low skills) dan menengah (intermediate skills) di Inggris cukup lemah dengan urutan peringkat ke-19 (Bosworth, 2014). Sedangkan untuk keterampilan tingkat atas (High skills) masuk pada urutan ke-11 dari 32 negara tersebut.

    Meskipun tingkat keterampilan orang dewasa terutama pada level low dan intermediate di Inggris relatif tinggi, adapun tantangan lain yang dihadapi yaitu permintaan keterampilan yang dibutuhkan di lapangan kerja. Kurangnya orang dewasa yang berketerampilan tertentu muncul ketika terdapat lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki tersebut karena perubahan jaman (Vivian, dkk, 2016). Stormer, dkk (2014) menidentifikasi 23 faktor yang mempenga-ruhi perubahan kondisi peluang kerja dan keterampilan baru. 23 faktor ini dikelompokkan menjadi 5 sub bidang:

    1. Bisnis dan ekonomi

  • Perspektif ekonomi yang berubah
  • Ekosistem bisnis baru
  • Kekuatan bisnis dan ekonomi Asia
  • Perkembangan internet yang merusak
  • Pertumbungan pusat ekonomi alternatif
  • Deglobalisasi
  • 2. Sumber daya alam dan lingkungan

  • Sumber daya alam yang semakin sulit didapatkan dan ekosistem yang terdegradasi
  • Permasalahan dan bencana alam yang mengancam ketersediaan sumber daya alam
  • 3. Teknologi dan inovasi

  • Teknologi gabungan dan keterampilan lintas bidang
  • Perkembangan ICT dan data besar
  • 4. Masyarakat dan individu

  • Keinginan kuat dalam keseimbangan kerja
  • Lingkungan kerja yang selalu berubah
  • Diversitas yang semakin besar
  • Ketidakpastian akan pendapatan
  • Perubahan demografi
  • Imigrasi
  • Kemudahan akses pertukaran keterampilan
  • Kontrak kerja yang tidak jelas
  • Values pekerja yang selalu berubah
  • 5. Hukum dan politik
  • Semakin berkurangnya ruang untuk aktivitas politik karena hambat-an keuangan publik.
  • Pemisahan kebijakan dari Uni Eropa/ pasca Brexit

  • Melihat 23 faktor diatas, Stormer, dkk (2014) menekankan peran 4 pihak di Inggris dalam menghadapai tantangan di masa depan, yaitu: pemilik usaha, pekerja, penyedia lapangan pekerjaan dan pemerintah. Peran yang paling penting dilakukan adalah fokus pada bidang berikut:

  • Perluasan dan pengembangan teknologi
  • Interkonektivitas dan kolaborasi
  • Penggabungan inovasi
  • Peningkatan tanggung jawab individu
  • Penurunan jumlah kelas menengah
  • Tempat kerja generasi 4

  • Selain 4 pihak yang memiliki peran strategis diatas, setiap individu juga didorong untuk lebih bertanggung jawab agar terus belajar sepanjang hidupnya dan mempertimbangkan manfaat proses belajar (baca Bimrose dkk., 2016; Hughes, Adriaanse and Barnes, 2016; Schmid, 2016). Peneliti-an ini menunjukkan bukti bagaimana pendidikan dan keterampilan dapat mempengaruhi seseorang dalam menyesuaikan diri dengan perubahan demografi dan permintaan pasar. Oleh karena itu setiap individu perlu secara terus menerus mengasah keterampilan yang mereka miliki serta pada saat yang sama mempelajari keterampilan dan ilmu yang baru. Dengan kata lain, setiap orang di Inggris harus mampu beradaptasi dan fleksibel terhadap perubahan pasar yang tidak stabil dalam ekonomi glo-bal (Paccagnella, 2016).

    Keterampilan yang wajib dipelajari sepanjang hidup di Inggris adalah keterampilan yang berbasis pada pekerjaan seperti literasi, numerasi, problem-solving dalam teknologi dan digital. Semua keterampilan ini sangat penting diajarkan dalam pendidikan vokasi karena merupakan penentu akan pekerjaan dan upah yang tinggi (OECD, 2016b). Keterampilan digital juga sangat penting dalam mendorong kemajuan ekonomi Inggris (Ecorys UK, 2016; OECD 2015a).

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa keterampilan literasi digital dasar harus dimiliki oleh semua orang dan diberdayakan dalam dunia kerja untuk keuntungan dan kepentingan pribadi dan ekonomi (van Deursen and van Dijk, 2010). Orang dewasa yang bekerja memerlukan keterampilan digital dasar ini untuk mereka terapkan dalam berbagai macam sektor lapangan kerja (Ecorys UK, 2016). Survey membuktikan bahwa keterampilan digital sangat berperan dalam pasar kerja setelah faktor yang lainnya seperti usia, gender, tingkat pendidikan, kecakapan literasi dan numerasi (OECD, 2016b). Di England misalnya, upah tinggi diberikan kepada mereka yang memiliki keterampilan dan pengalaman di bidang ICT (OECD, 2015a).

    Selain keterampilan digital dasar, sebuah penelitian panjang melalui the British cohort study, menunjukkan bahwa ketuntasan pendidikan sangat berbanding lurus dengan tingginya upah saat bekerja dan faktor non-kognitif lain seperti motivasi, kerja keras atau daya tahan dan kontrol diri dapat memberikan nilai tambah pada upah setelahnya (Green, dkk, 2015). Heckman dan rekannya (2006) menyatakan bahwa keterampilan non-kognitif ini lebih penting dibandingkan dengan kognitif dalam menentukan variasi upah, penguasaan keterampilan dan produktivitas dalam dunia kerja. Keterampilan non-kognitif akan mempengaruhi out-come akademik dan stabilitas finansial pada masa dewasa (Morrison Gutman and Schoon, 2013).

    Perubahan pasar dan keterampilan yang dibutuhkan sangat diper-hatikan oleh pemerintah Inggris dalam menyiapakan diri sebagai bangsa yang kompetitif dan inovatif. Oleh karena itu memberikan kesempatan, ruang dan fasilitas kepada masyarakat untuk mengembangkan diri, ber-adaptasi, dan belajar sepanjang masa sangatlah penting agar mampu mengatasi permasalahan karena perubahan jaman.

    Untuk memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan jaman atau keterampilan yang beradaptasi dengan kebutuhan, seseorang harus memiliki 4Cs: Concern, Control, Curiosity, dan Confidence(lihat tabel 11). Keterampilan yang beradaptasi membuat orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Keempat dimensi ini dapat diperoleh melalui tantangan-tantangan baru dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan wawasan dan perspektif baru dalam hidup. Oleh karena itu, adaptasi karir ini sangat diperlukan dalam membangun perbaikan dan manajemen karir serta memberikan tantangan-tantangan baru dan ke-sempatan di pasar kerja yang selalu berubah. Sehingga diperlukan sistem pendidikan vokasi yang dapat mendukung masyarakat untuk mengem-bangkan dan membangun perbaikan karir dan adaptasi mereka.

    Peran pendidikan vokasi sangatlah penting terutama dalam mem-bantu masyarakat untuk belajar melalaui kehidupan bekerja mereka dan tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi berjuang dalam dunia kerja dan permintaan pasar selama hidupnya (Barnes, dkk, 2016).

    Untuk memastikan bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, pemerintah Inggris juga memberikan fasilitas dan ruang pendidikan keterampilan bagi masyarakat marginal seperti para imigran, kaum difabel, lanjut usia (Lansia) dan narapidana. Salah satu contohnya adalah pembentukan Prison Industries atau program rehabilitasi seperti pelatihan kerja bagi para narapidana selama di penjara untuk menyiapkan mereka menghadapi dunia kerja pasca keluar dari penjara. Tujuan utama dari Prison Industries adalah membantu mereka untuk mendapatkan keterampilan, kualifikasi dan pengalaman kerja sehingga setelah menyesaikan masa hukuman mereka dapat bekerja dalam masyarakat. Manajemen Prison Industries juga harus dapat mem-berikan pendanaan dan keuntungan bagi organisasi penyelenggara kegiat-an dan secara terus menerus mendukung program-program yang dapat menawarkan kesempatan untuk pengembangan diri bagi para narapidana. Pemerintah Inggris juga membentuk tim pembuat kebijakan dalam Prison Industries yang bertujuan untuk mengembangkan strategi kerja jangka panjang para narapidana, memperkuat jaringan dengan lembaga pelayanan penjara internal, departemen pemerintah, para pengusaha dan pihak otoritas lokal (House of Commons Home Affairs Committee, 2004)

    Kesimpulan dan Pembelajaran

    Merujuk pada sistem pendidikan vokasiyang ada di negara Inggris, pro-gram Lifelong learning sudah ditekankan oleh pemerintah sejak tahun 1998. Penerapan program inipun juga sangat aplikatif karena penerapannya diatur dan dikembangkan oleh tiap negara bagian: Inggris, Wales, Irlandia utara dan Skotlandia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki sistem pemerintahan otonomi daerah, Indonesia bisa mencoba belajar dari implementasi program Lifelong learning di Inggris. Pada intinya peme-rintah Inggris terus memastikan bahwa setiap individu memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam pendidikan dan terus mengasah serta mengembangkan keterampilan mereka untuk menghadapi tantangan per-ubahan zaman. Semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk menggunakan ilmu pengetahuan dan keterampilan mereka terutama dalam bidang teknologi dan digital dalam rangka menguatkan ekonomi negara di persaingan global.

    Pemerintah Inggris juga sangat mengantisipasi akan tantangan perubahan jaman yang selain memiliki dampak positif bagi efektivitas ekonomi, juga dapat memberikan masalah tersendiri, terutama dalam persaingan kerja masyarakat. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara memastikan antara ketersediaan keterampilan tenaga kerja (Skills supply) dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja (Skills demand), atau bagaimana cara agar tidak terjadi ketimpangan antara kedua hal tersebut (Skills mismatch). Oleh karena itu pemerintah Inggris mengidentifikasi faktor-faktor utama penyebab perubahan yang terjadi di dunia kerja dan pasar itu sendiri serta menentukan sikap dan langkah strategis untuk mengantisipasinya.Untuk menghadapi tantangan ini, setiap orang di Inggris diwajibkan untuk mempelajari dan mengembangkan keterampilan yang berbasis pada pekerjaan seperti literasi, numerasi, problem-solving dalam bidang teknologi dan digital. Keterampilan digital sangatlah penting untuk mendapatkan kesempatan kerja yang luas dan upah yang tinggi. Selain itu, juga ditekankan untuk selalu meningkatkan keterampilan non-kognitif seperti motivasi diri, kerja keras, daya tahan dan kontrol diri, karena semua keterampilan ini dapat menentukan variasi pekerjaan dan stabilitas finansial mereka.

    Pemerintah Inggris juga memberikan fasilitas dan ruang penuh kepada seluruh masyarakat untuk mengembangkan diri mereka. Komponen penting yang harus dimiliki oleh setiap individu di Inggris adalah 4Cs (Concern, Control, Curiosity and Confidence) agar mereka bisa beradaptasi sepanjang karir hidupnya. Selain itu, perhatian pemerintah untuk memastikan bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam meningkatkan keterampilan dan dunia kerja adalah dibentuknya program dan rencana strategis kepada para kaum marginal seperti para imigran, kaum difabel, lanjut usia dan narapidana. Salah satu contoh yang paling berbeda adalah pembentukan program rehabilitasi yang bernama Prison Industries beserta tim khusus tertentu untuk memberikan pelatihan dan persiapan kerja bagi para narapidana baik di dalam maupun diluar penjara bekerja sama dengan pemangku kepentinganyang ada dan para pengusaha.

    Oleh Aziza Restu Febrianto

    Dalam buku “Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris”

    Sumber: Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London 2018



    Kontributor:

    Thumb unnamed