Kemajuan teknologi digital saat ini mengalami inovasi tiada henti. Proses produksi barang dan jasa menggunakan teknologi digital lebih dikenal dengan istilah “Industri 4.0”. Istilah ini pertama kali dikenal di Jerman pada 2011. Kanselir Jerman, Angela Merkel, memperkenalkan istilah tersebut pada pertemuan tahunan WEF 2015. Dia menjelaskan industri 4.0 tak lain mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri (http://www.republika.co.id/, 26/01/2016). Saat ini penerapannya antara lain: digital printing 3D, router, Internet of Things (IoT), smart factory, robotika hingga inovasi sistem produksi barang dan jasa terintegrasi teknologi informasi dan komputer (TIK).

Industri 4.0 memiliki beberapa kelebihan. Beberapa diantaranya: Pertama, memungkinkan industri memproduksi produk dengan sesuai pesanan tertentu (custom made). Kedua, meminimalkan jumlah mesin produksi atau manufaktur yang terlibat dalam proses produksi (multi purposes machine). Ketiga, peningkatan produktivitas, efisiensi dan fleksibilitas. Keempat, mampu menghemat biaya maupun waktu. Kelima, mampu mensimulasikan jalur produksi secara online dan real time.

Angka pengangguran di Indonesia per Februari 2016 menurut data BPS tercatat 7,02 juta orang. Ada penurunan sekitar 430.000 orang dibandingkan posisi Februari 2015. Pengangguran terbanyak didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Menurut kepala BPS, Suryamin, dari setiap 100 angkatan kerja lulusan SMK, ada sekitar 9 hingga 10 orang yang masih menganggur. Miris rasanya! SMK digadang-gadang mampu menghasilkan lulusan yang siap bekerja atau berwirausaha. Namun faktanya persentase pengangguran lulusan Sekolah Kejuruan (SMK) lebih banyak dibanding lulusan Sekolah Umum (SMA).

Senada dengan hal ini, data BPS tahun 2013 sampai 2014 menunjukkan adanya kenaikan persentase pengangguran SMK. Tahun 2013 tercatat sebesar 11,19%. Tahun 2014 meningkat menjadi 11,24%. Ada peningkatan sebesar 0.05%. Memang angkanya tidak terlalu signifikan. Namun, menunjukkan tren kenaikan. Maka perlu dipikirkan solusi untuk mengatasinya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan persentase lulusan pengangguran SMK melebihi lulusan SMA. Salah satunya bisa jadi diakibatkan pemerintah gagal merancang kompetensi keahlian yang sesuai kebutuhan industri. Sudah selayaknya pemerintah merancang kompetensi keahlian dengan memperhatikan kebutuhan dunia industri terkini. Saat ini ada kecenderungan pergeseran teknologi manufaktur dari proses konvensional (industri 3.0) menjadi proses digital (industri 4.0). Ini bisa menjadi peluang atau justru malahan menjadi musibah. Menjadi peluang, jikalau pemerintah jeli mencari cara-cara untuk menyiapkan infrastruktur pendukung. Salah satunya dengan menyiapkan kompetensi keahlian yang menunjang investasi industri ini.

Kompetensi keahlian yang diprediksi dapat menjawab kebutuhan revolusi industri generasi keempat merupakan gabungan antara bidang teknik mesin, teknik elektronika industri (TEI), teknik komputer jaringan (TKJ) dan teknik rekayasa perangkat lunak (RPL). Kombinasi empat bidang keahlian ini seyogyanya menjadi satu kompetensi keahlian yang terintegrasi, sehingga dapat menyediakan tekno-preneur atau teknisi handal di sektor industri 4.0.

Belum Link and Match

Terkait kompetensi keahlian SMK, timbul pertanyaan, apakah sudah link and match dengan kebutuhan industri atau pasar? Jawaban tentang hal ini dapat ditemukan jawabannya pada artikel Kemdikbud yang berjudul “Revitalisasi Pendidikan Vokasi” oleh Ananto Kusuma Seta, M.Sc, Ph.d (Revitalisasi Pendidikan Vokasi, 2016:4). Dalam artikel ilmiah tersebut, dijelaskan bahwa pendidikan vokasi belum link and match dengan dunia usaha / dunia industri (DU/DI). Inilah salah satu urgensi revitalisasi pendidikan vokasi. Tentunya menyelesaikan masalah ini perlu adanya komitmen dan regulasi yang diambil pihak regulator (pemerintah) dengan stakeholder (dunia usaha / dunia industri).

Managing Director PT Omron Electronics Indonesia, Budi Sutanto, mengemukakan pendapatnya bahwa saat ini industri manufaktur telah memasuki revolusi industri keempat atau industri 4.0. Dia menambahkan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang terbentuk tahun 2016 akan menciptakan pasar dengan potensi jumlah konsumen yang hampir mencapai 700 juta orang. Angka ini hampir 10 persen dari total populasi dunia. Indonesia termasuk salah satu negara ASEAN yang sangat berpotensi menjadi connecting link industri manufaktur di kawasan tersebut. Tentu saja hal ini perlu menjadi perhatian, khususnya bagi pengambil kebijakan. Sehingga dapat merumuskan langkah-langkah yang perlu diambil untuk menyiapkan generasi muda Indonesia menyongsong era industri 4.0.

Penerapan

Sebenarnya penerapan Internet of Things (IoT) sudah banyak dilakukan di Sekolah Kejuruan. Salah satunya karya Febryan, siswa kompetensi Elektronika Teknik Audio Audio yang dibimbing oleh Bapak Sunarto, S.Pd. M.T. Karyanya berupa alat pengaman anti maling untuk sepeda motor. Dia memodifikasi bel pintu tanpa kabel (wireless) yang banyak dijual di toko elektronik, kemudian dipasang di sepeda motor. Jika ada orang yang menyalakan motor tanpa seijin pemiliknya, maka motor tidak bisa dihidupkan dan alarm yang dibawa oleh pemilik motor berbunyi. Alarm ini bisa bekerja pada jarak 150 meter. Febryan akhirnya mendapat Juara 1 LKCS SMK pada bidang Teknik Otomotif. Inilah salah satu bukti bahwa siswa SMK sudah bisa membuat alat sederhana berbasis industri 4.0. Sudah selayaknya dibuatkan kompetensi keahlian khusus yang bisa memfasilitasi hal ini. Diharapkan dapat menjadi peluang yang menguntungkan bagi iklim investasi industri generasi keempat.

Sudah selayaknya pendidikan kejuruan bertujuan menyiapkan generasi muda yang siap memasuki dunia kerja formal maupun informal sesuai bidang keahlian yang dipelajarinya. Selain itu diharapkan bisa menghasilkan lulusan yang siap membuka lapangan pekerjaan terkait ekonomi kreatif khususnya industri 4.0. Selama ini kompetensi keahlian yang peminatnya banyak justru lulusannya susah mendapatkan pekerjaan, contohnya kompetensi Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Seyogyanya ada beberapa SMK yang memiliki kompetensi keahlian ini dapat menjadi sekolah percontohan. Sekolah kejuruan tersebut sudah selayaknya merevitalisasi kompetensi keahlian TKJ menjadi kompetensi keahlian teknologi manufaktur digital. Nilai lebih kompetensi keahlian baru ini, yaitu lebih unik dan spesifik, khususnya terkait kompetensi lulusannya.


Sumber: http://heriyudiantost061233.gurusiana.id/article/revitalisasi-smk-untuk-mendukung-suksesnya-industri-40-653096



Kontributor:

Thumb img 20170724 070911