Saat punya waktu luang, saya membaca Winning tulisan Jack Welch dan Suzy Welch. Jack Welch adalah mantan bos General Electric, sedang Suzy Welch saya duga istrinya. Kebetulan yang saya baca Chapter 6 yang berjudul Hiring: What Winners Are Made of. Isinya sangat bagus, oleh karena itu saya ingin berbagi dengan Anda.

Pada bab itu Jack da Suzy Welech menjelaskan kriteria yang perlu digunakan pada saat melakukan rekrutmen karyawan. Kriteria itu konon sering ditanyakan ketika mereka memberikan seminar maupun pelatihan manajemen. Kriteria tersebut sangat penting agar perusahaan memiliki karyawan dan pimpinan yang betul-betul bagus. Staf yang tidak sesuai dengan kriteria yang diperlukan seringkali merepotkan.

Menurut Jack dan Suzy Welch saringan pertama untuk rekrutmen calon karyawan adalah menguji tiga aspek yaitu integrity, intelligence, dan maturity. Yang dimaksud dengan integrity dalam konteks ini adalah kejujuran dan satunya kata dengan perbuatan. Setiap karyawan harus memahami nilai-nilai serta aturan-aturan yang diterapkan di perusa-haan dan harus dengan sepenuh hati menerapkannya.

Bagaimana cara mengetahui integritas orang? Untuk orang dalam, integritas dapat diketahui dari perilaku sehari-hari yang bersangkutan. Tentu itu dilakukan dalam waktu cukup lama, sehingga dapat dilihat konsistensinya. Bagaimana bagi calon dari luar? Tentu lebih sulit. Biasanya didasarkan dari reputasi yang bersangkutan dan atau referensi orang lain yang terpercaya.

Karyawan tidak harus secerdas Einstein dan Stephen Haw king. Calon karyawan juga tidak harus membaca buku Shakespeare dan Ary Ginandjar. Tetapi karyawan harus memiliki kecerdasan yang cukup baik agar dapat mengerjakan tugas-tugas yang diamanatkan kepadanya. Lebih dari itu, karyawan yang cerdas dapat dengan mudah mengikuti perkembangan perusahaan. Ketika perusahaan tumbuh, tentu terjadi perubahan tata kerja diperusahaan, dan karyawan tentu harus dapat mengikutinya.

Tetapi penulis buku ini mengingatkan agar kita tidak mengaburkan antara kecerdasan dan pendidikan. Memang benar, bisanya lulusan perguruan tinggi terkenal adalah mereka yang cerdas. Tetapi itu juga tidak menjamin. Fakta juga menunjukkan banyak lulusan perguruan tinggi biasa atau bahkan tidak pernah kuliah ternyata cerdas. Kematangan (maturity) penting bagi karyawan. Dengan kematangan karyawan tidak mudah emosi, dapat menghargai orang lain, dapat melakukan introspeksi dari kekurangan diri, serta mudah bekerja sama dalam tim. Karyawan yang kurang matang seringkali menimbulkan situasi kerja yang tidak kondusif.

Disamping tiga syarat tadi, Jack dan Suzy Welch menga-takan karyawan harus memiliki “The 4-E dan 1-P”. Apa itu? E pertama, karyawan harus memiliki positive energy. Maksudnya karyawan harus memiliki enerji dan semangat untuk “kerja-kerja-kerja”. Karyawan dengan positive energy akan selalu optimistis dan bersemangat untuk mengerjakan tugasnya. Mereka biasanya mencintai pekerjaannya.

E kedua adalah energize others. Maksudnya karyawan yang baik akan memberi semangat kepada rekan lainnya. Hal itu tidak selalu disampaikan sebagai ucapan, tetapi lebih dari itu melalui contoh yang menginspirasi orang lain. Membangun kebersamaan kerja keras merupakan contoh energize others.

E ketiga adalah edge, the courage to make tough ye- s-or-no decision. Seringkali situasi kerja bersifat abu-abu, sehingga orang dapat berbeda pendapat karena masing-masing melihat dari sisi yang berbeda. Dalam situasi seperti itu karyawan harus mampu menganalisis mana yang tepat dan berani mengatakan “ya” untuk yang diyakini benar dan mengatakan “tidak” untuk yang diyakini tidak benar. Walaupun informasi yang keliru tadi berasal dari orang/pihak yang berpengaruh.

E keempat adalah execute. Maksudnya kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas. Tidak semua orang yang paham dan bahkan pandai berteori mampu melaksanakan apa yang diteorikan. Di samping kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan juga diperlukan keberanian. Apalagi ada pekerjaan-pekerjaan yang mengandung risiko.

Sedangkan P yang dimaksud adalah passion. Jika pekerja an telah menjadi passionnya, maka karyawan akan menikmati pe kerjaannya. Dengan demikian dia akan bekerja dengan sepenuh hati dan hasilnya akan maksimal. Sedangkan karyawan yang bekerja karena terpaksa atau sekadar melaksanakan kewajiban, hasilnya tidak akan maksimal.

Kriteria Pemimpin

Kriteria di atas berlaku untuk semua karyawan. Namun untuk level pimpinan apalagi pimpinan puncak di unit kerja, diperlukan kriteria tambahan. Jack dan Suzy Welch menyebutkan empat tambahan untuk syarat pimpinan, yaitu authenticity, ability to see around corners, strong penchant to surround themselves with better people, dan heavy duty resilience.

Orang dengan authenticity memiliki kemandirian dan rasa percaya diri yang kuat. Dengan demikian dia akan berani mengambil keputusan yang dianggap tepat walaupun mungkin tidak populer. Pemimpin apalagi pemimpin puncak tidak boleh hanya mencari popularitas dan melupakan kemajuan organisasi. Pemimpin dengan authenticity tidak akan sekadar mengikuti arus orang banyak. Dia akan mengambil langkah berani demi kemajuan organisasi yang dipimpinnya.

Yang dimaksud dengan ability to see around corners adalah kemampuan memprediksi apa yang akan terjadi di masa datang. Tentu yang dimaksud bukan semacam juru ramal, tetapi dengan berbagai data dan fenomena, pemimpin puncak harus mampu membuat prediksi ke depan. Dengan begitu, dapat dilakukan antisipasinya. Bahkan dengan kemampuan itu, yang bersangkutan dapat “memanfaatkan” perubahan itu untuk kemajuan organisasi.

Pemimpin harus mampu mendayagunakan staf untuk kemajuan organisasi. Makin pandai staf yang dimiliki tentunya makin lancar pekerjaan. Namun demikian tidak semua pimpinan merasa nyaman ketika dikelilingi dan mendapat masukan dari karyawan yang lebih pandai dari dia sendiri. Pemimpin yang baik, apalagi pemimpin puncak, seharusnya siap dikelilingi dan mendapat masukan dari staf yang lebih pandai atau lebih pengalaman dari dia sendiri. Pemimpin seperti itulah yang oleh Jack dan Suzy Welch disebut dengan strong penchant to surround themselves with better people.

Tidak ada orang yang tidak pernah gagal. Demikian pula setiap organisasi pernah mengalami kegagalan program. Setiap orang maupun organisasi juga akan selalu menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Pemimpin apalagi pemimpin puncak harus memiliki heavy duty resilience, yaitu kemampuan menghadapi tantangan dan berani bangkit dari kegagalan. Pemimpin yang baik harus memaknai kegagalan sebagai pelajaran dan sukses yang tertunda. Pemimpin yang baik harus memaknai tantangan sebagai peluang untuk sukses.

Jujur saya merasa mendapat pelajaran banyak dari buku Winning ini. Yang ingin mendapatkan gambaran lebih lengkap, silahkan membaca buku aslinya. Semoga.

Oleh Muchlas Samani

Dalam buku “Semua dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?”



Kontributor:

Thumb unnamed