#EksisSMK : Prosedur Kerja Kontributor


#EksisSMK dikembangkan dari, oleh dan untuk stakeholder SMK. Karenanya kontribusi semua pihak untuk memberikan aset pengetahuannya ke dalam aplikasi #EksisSMK menjadi hal yang terpenting.

Bagi stakeholder yang ingin berkontribusi pada #EksisSMK dapat secara mandiri mendaftarkan diri menjadi kontributor melalui menu login. Adapun langkah-langkah berkontribusi adalah sebagai berikut :

  1. Kontributor dapat mendaftar melalui menu Login. Kemudian kontributor dapat mengisikan nama, email, password pada menu yang tersedia.
  2. Selanjutnya silahkan memilih menu akun untuk memilih kontribusi yang akan diberikan. Adapun menu tersebut diataranya (a) Data Knowledge (b) Kamus SMK (c) Paparan (d) Buku (e) Video.
  3. Kategori konstribusi yang disediakan #EksisSMK terdiri dari :
    1. Peserta Didik SMK
    2. Kurikulum SMK
    3. Penyelarasan Kejuruan SMK
    4. Kelembagaan SMK
    5. Hubungan Industri
    6. Program dan Anggaran SMK
    7. Kerjasama Luar Negeri
    8. Sarana dan Prasarana

Prinsip umum Penulisan Artikel


Konsistensi internal

Salah satu prinsip umum dalam penulisan di #EksisSMK ialah bahwa gaya dan format penulisan harus konsisten atau taat asas sepanjang sebuah artikel walaupun tidak harus sama di seluruh #EksisSMK. Ketaatasasan di dalam artikel mendukung kejelasan dan kohesi tulisan. Oleh karena itu, walaupun Pedoman Gaya mengijinkan penggunaan alternatif untuk unsur tertentu, tetaplah konsisten di sepanjang artikel.

Ikuti sumbernya

Banyak cara penulisan, misalnya cara penulisan nama, dapat dipastikan dengan mengacu cara penulisan yang dilakukan penulis lain. Ikuti cara penulisan dari sumber sekunder berbahasa Indonesia yang tepercaya. Jika sumber yang menjadi acuan terbukti tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan ikuti—dan cari sumber-sumber acuan lain.

Kejelasan

Penulisan dalam #EksisSMK harus jelas dan ringkas. Artikel dalam #EksisSMK seharusnya dimaksudkan untuk memperkenalkan pembaca kepada topik yang dibahas atau menjadi sarana untuk mengingat kembali dan tidak dimaksudkan untuk membingungkan pembaca. Hindari jargon, frasa-frasa yang tidak jelas, dan kerumitan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Judul artikel


Jika memungkinkan, jadikanlah judul artikel sebagai subyek pada kalimat pertama dalam artikel, dan bukan predikat; sehingga dengan demikian, judul artikel diupayakan untuk tampil pada kalimat pembukaan di awal artikel; atau dengan kata lain sebisa mungkin posisinya berada pada kalimat pertama, paragraf pertama, dalam artikel. Sebagai contoh, kalimat "Indonesia adalah negara kepulauan..." lebih dipilih dari pada kalimat "Negara kepulauan yang dikenal dengan nama Indonesia..." sebagai kalimat pembuka dalam artikel mengenai Indonesia.

Sewaktu pertama kali judul dicantumkan dalam badan artikel, gunakan tiga tanda petik – '''judul artikel''' yang akan menghasilkan judul artikel. Contoh: "Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia". Jika suatu artikel memiliki judul(-judul) alternatif, judul tersebut sebaiknya juga ditebalkan, contohnya: "Amerika Serikat (disingkat A.S.)...". Selain digunakan untuk keperluan tersebut, frase lain pada kalimat atau paragraf pertama sebaiknya tidak ditebalkan.

Penulisan judul dalam bahasa asing, seperti judul karya (buku, film, album, lagu, dll), sebaiknya dipertegas dengan pemberian format tulisan miring selain ditebalkan, yang mana caranya adalah dengan menggunakan lima tanda petik tunggal – '''''judul film''''' untuk menghasilkan tampilan berikut: judul film.

Gaya dan Nada Penulisan


Masing-masing orang yang melakukan kontribusi artikel maupun penyuntingan artikel memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Hal ini menyumbang keunikan dan hak istimewa yang dimiliki oleh para kontributor itu sendiri. Meskipun demikian, hal yang berkenaan dengan pemilihan kata (diksi) dan istilah hendaknya tetap menjadi perhatian utama oleh para kontributor.

Ada dua gaya penulisan yang dipandang sesuai untuk artikel #EksisSMK. Lebih jauh lagi, penulis harus selalu memperhatikan bahwa nada tulisan bersifat resmi (formal), dingin (impersonal), dan netral (tidak memihak: takbias, tidak emosional, dan bersih dari prasangka).

Gaya berita/jurnalistik

Sejumlah kontributor menyarankan penggunaan gaya penulisan berita. Gaya ini adalah gaya prosa untuk berita di halaman muka surat kabar atau buletin berita yang disiarkan radio dan televisi. Ciri pokoknya adalah penempatan informasi penting di bagian awal, dan informasi kurang penting menyusul di belakangnya. Bentuk ini dimaksudkan pada awalnya agar para penyunting dapat memotong bagian bawah berita apabila berita itu kekurangan ruang di layout; gaya ini mengutamakan informasi penting karena kebanyakan orang memerlukan informasi penting segera, sedangkan informasi kurang penting dapat dicari belakangan.

Artikel ensiklopedia tidak harus mengikuti gaya penulisan berita, tetapi keterbiasaan dengan gaya ini dapat membantu merencanakan gaya dan tata letak suatu artikel. Perlu pula disadari bahwa gaya penulisan berita bukan berarti nada penulisan seperti berita hiburan dapat diterima (lihat bagian Nada penulisan).

Gaya ringkasan

Gaya ringkasan adalah gaya penulisan yang bermiripan dengan gaya berita, namun berlaku untuk mengetengahkan topik-topik yang akan dijelaskan kemudian. Gaya ini dipakai untuk mengawali subbagian-subbagian, bukan paragraf-paragraf baru.

Ide dasar gaya ini adalah untuk membagikan informasi kepada pembaca yang mengharapkan sejumlah informasi rincian. Pembaca dapat memutuskan sendiri apakah mereka akan membaca rincian yang diberikan atau cukup ringkasan di awalnya saja.

Ada dua alasan utama menggunakan gaya ringkasan. Yang pertama adalah pembaca memerlukan derajat rincian yang berbeda-beda: beberapa pembaca hanya menginginkan ringkasan singkat (sehingga dapat membaca bagian pengantar saja), pembaca yang lainnya memerlukan lebih banyak informasi (di sinilah gaya ringkasan dapat membantu), dan pembaca yang berminat akan rincian yang mendalam dapat membaca subbagian-subbagian yang menyertai. Alasan lainnya adalah bahwa artikel yang terlalu panjang akan mempersulit pembacaan dan terancam mengalami pengulangan yang tidak perlu. Ringkasan tetap memperhatikan kelengkapan isi.

Nada penulisan

Artikel #EksisSMK, dan isi artikel ensiklopedik lainnya, harus ditulis dengan nada resmi. Standar untuk nada resmi tidak seragam karena tergantung kepada subjek yang dibahas. Dianjurkan untuk mengikuti gaya yang digunakan oleh Sumber terpercaya, dengan tetap menjaga agar artikel jernih dan mudah dimengerti. Nada resmi berarti bahwa artikel seharusnya tidak ditulis menggunakan jargon, bahasa yang rumit seperti bahasa legal, argot (kata-kata yang hanya dapat dipahami oleh golongan atau kelas tertentu), atau bahasa yang taksa, dan kabur. Bahasa Indonesia yang digunakan semestinya tegas, ringkas, dan efektif.

Artikel seharusnya tidak ditulis dari sudut pandang orang pertama atau kedua. Artikel yang ditulis seperti ini kerap kali dihapus. Kata ganti orang pertama seperti "saya" atau "kami" menyiratkan sudut pandang yang tidak konsisten dengan sudut pandang netral. Meskipun begitu "kita" mungkin dapat digunakan dalam konteks matematika. Kata ganti seperti "kamu", "Anda", atau "kalian" sering muncul dalam petunjuk penggunaan, dan karena itu tidak cocok untuk ensiklopedia. Kata ganti orang pertama dan kedua selayaknya hanya digunakan dalam artikel dalam kutipan langsung yang relevan dengan subjek yang dibahas.

Bahasa Indonesia pada umumnya tidak mengenal gender. Namun bila Anda menemukan kata bergender, dan ada alternatif kata tanpa gender yang dapat digunakan, pilihlah kata tersebut. Misalnya pilihlah kata "anak", bukan "putra" atau "putri" bila informasi gender tidak diperlukan. Tanda baca penekanan hanya boleh muncul menurut kesepakatan umum dalam praktik sehari-hari. Tanda seru ("!") selayaknya dipakai hanya pada kutipan langsung.

Pikirkan Khalayak Pembaca


Dalam menyajikan sebuah artikel perlu dipertimbangkan bahwa artikel yang dimuat di #EksisSMK Indonesia adalah artikel yang dapat dibaca oleh semua kalangan berpendidikan atau tidak, kalangan politisi atau aparat yang berwenang, rakyat jelata atau orang awam, dan lain sebagainya. Asumsikan bahwa pembaca membaca artikel di #EksisSMK untuk belajar. Mungkin saja pembaca tersebut tidak mengetahui subjek artikel sama sekali: artikel di #EksisSMK harus menjelaskan subjeknya secara menyeluruh.

Hindari penggunaan jargon jika dimungkinkan. Suatu artikel yang berjudul "Penggunaan skala kromatik di era awal musik Barok" kemungkinan besar akan dibaca oleh musisi, sehingga pemberian detil teknis dan jargon sangat tepat dilakukan. Sebaliknya, artikel berjudul "Musik Rap" mungkin akan dibaca oleh remaja tanggung yang hanya ingin penjelasan ringkas dan mudah dimengerti, yang akan dilanjutkan atau dihubungkan dengan penjelasan detil jika diperlukan. Jika jargon digunakan dalam artikel, penjelasan singkat harus diberikan di dalam artikel tersebut. Usahakan menyeimbangkan keluasan dan detail artikel sehingga pembaca dapat memperoleh informasi darinya.

Mengevaluasi konteks

Berikut adalah hal-hal yang dapat dipikirkan untuk membantu Anda mempertimbangkan apakah konteks artikel tertentu cukup luas bagi pembaca:

  • Bayangkanlah diri Anda seorang awam yang bisa berbahasa Indonesia dari negara lain. Dapatkah Anda memahami artikel tersebut?
  • Apakah orang dapat memahami isi artikel tersebut jika ia membaca hasil cetakan halaman pertamanya saja?
  • Apakah pembaca menjadi tertarik untuk membaca isi pranala yang diberikan?

Jelaskan yang sudah jelas

Jelaskan fakta-fakta yang mungkin sudah jelas bagi Anda tetapi belum tentu jelas bagi pembaca. Biasanya pernyataan semacam ini merupakan kalimat-kalimat pertama pada artikel. Contohnya, perhatikan kalimat berikut:

Tetap fokus pada topik artikel

Artikel yang baik tidak mengandung informasi tak relevan maupun informasi yang sedikit relevan. Ketika menulis artikel, mungkin Anda melenceng ke topik sampingan. Masukkan informasi tambahan semacam itu pada artikel berbeda yang lebih sesuai dengan topik baru tersebut. Pranala dapat diberikan ke artikel baru ini dan pembaca yang tertarik dapat mengikuti pranala tersebut, sementara pembaca yang tidak tertarik tidak perlu terganggu.

Gunakan istilah yang jelas, tepat, dan akurat

Penggunaan istilah perlu mendapat perhatian khusus bagi yang hendak melakukan kontribusi halaman dan penyuntingan artikel dengan tetap memperhatikan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang telah diatur oleh Pemerintah Indonesia. Penggunaan istilah baru atau yang kurang umum hendaknya diberi penjelasan tambahan berupa kurung buka dan kurung tutup, setelah akhir kalimat beri tanda bintang di samping titik; kemudian selesai artikel ditulis buat bagian baru dengan nama catatan kaki, dan cara terakhir dengan kurung buka segitiga untuk merujuk ke referensi.

Huruf kapital


Kapitalisasi awal dan kapitalisasi seluruh huruf jangan digunakan untuk penekanan, Sebagai contoh, “burung, yang Tidak Identik dengan unggas” dan “burung, yang TIDAK IDENTIK dengan unggas” keduanya tidak tepat. Jika kata-kata tidak dapat memberikan penekanan, gunakan cetak miring, contohnya “burung, yang tidak identik dengan unggas”.

Gelar

Gelar seperti presiden, raja, atau kaisar diawali dengan huruf kapital jika digunakan sebagai gelar (yang diikuti dengan nama): “Presiden Soekarno”, bukan “presiden Soekarno”. Jika digunakan secara generik, kata tersebut harus dalam bentuk huruf kecil: “De Gaulle adalah presiden Perancis”.

Dalam bahasa Inggris, dikenal bentuk formal nama yang diperlakukan sebagai kata benda khusus yang harus dikapitalisasi, contohnya: “Louis XVI was the French king” dan “Louis XVI was King of France”. Bentuk kedua adalah suatu nama formal yang harus dikapitalisasi sesuai asalnya. Dalam bahasa Indonesia keduanya diterjemahkan sama: “raja Perancis” sehingga aturan kapitalisasinya diserahkan pada konteks penggunaan. Gelar kebangsawanan seperti “Yang Mulia” atau “Putra Mahkota” harus dikapitalisasi.

Dalam kasus “perdana menteri”, pilihannya adalah kedua kata dimulai dengan huruf kapital atau tidak sama sekali, kecuali jika memulai suatu kalimat. Aturannya mengikuti aturan umum kapitalisasi gelar: tanpa kapitalisasi jika digunakan generik dan dengan kapitalisasi jika digunakan sebagai gelar. Contoh: “Terdapat banyak perdana menteri di dunia” dan “Perdana Menteri Britania Raya adalah Tony Blair”.

Agama, ketuhanan, filsafat, doktrin, dan penganutnya

Nama agama, baik sebagai kata benda maupun kata sifat, serta penganutnya dimulai dengan huruf kapital. Tuhan atau dewa dimulai dengan huruf kapital: Tuhan, Allah, Mesias. Ini juga diterapkan sewaktu merujuk pada tokoh agama penting, seperti Muhammad, dengan menggunakan istilah seperti sang Rasul.

Filsafat, teori, doktrin, dan sistem pemikiran tidak diawali dengan huruf kapital, kecuali jika nama tersebut diturunkan dari kata benda khusus: huruf kecil republikan merujuk pada sistem pemikiran politik; huruf besar Republikan merujuk pada Partai Republik tertentu (tiap nama partai adalah kata benda khusus).

Kalender

Nama bulan, hari, dan hari besar selalu diawali dengan huruf kapital: Juni, Senin, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Nama musim, dalam hampir semua kasus, selalu menggunakan huruf kecil: “musim panas ini sangat panas” dan “puncak musim dingin terjadi pada 22 Desember”. Gunakan huruf kapital jika merupakan personifikasi, sehingga menjadi kata benda khusus.

Tanggal umumnya diikuti oleh koma: “Pada tahun 2001, Budi menikah”, “Pada 10 April, saya akan menikah”. Suatu pengecualian adalah jika mereka digunakan untuk memodifikasi istilah lain: “Edisi 1993 mengandung beberapa kesalahan”.

Hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup lain

Nama genus dikapitalisasi, tapi nama spesies tidak. Keduanya juga harus dicetak miring. Contohnya, bunga tulip adalah Liriodendron tulipifera

Perdebatan apakah nama umum spesies harus diawali oleh huruf kapital atau tidak, belum mencapai kesepakatan. Sebagai jalan tengah, keduanya diterima, tapi harus dibuatkan pengalihan dari bentuk alternatifnya.

Benda Langit

Nama planet dan bintang adalah kata benda khusus dan dimulai dengan huruf kapital: “Malam ini planet Mars dapat terlihat di konstelasi Gemini, di dekat bintang Pollux”.

Kata matahari, bumi, dan bulan adalah kata benda khusus jika kalimat menggunakan mereka dalam konteks astronomi, tapi tidak untuk yang lainnya. Hal tersebut hanya diterapkan jika merujuk pada benda langit spesifik (Matahari, Bumi, dan Bulan kita): jadi “Bulan mengorbit Bumi”; tapi tidak “Charon, bulan Pluto”.

Daerah dan arah

Daerah yang merupakan kata benda khusus, termasuk istilah-istilah spesifik yang dikenal luas, dimulai dengan huruf kapital.

Arah (utara, barat laut, dll.) bukanlah kata benda khusus dan tidak dimulai dengan huruf kapital. Demikian juga untuk bentuk turunannya.

Jika Anda tidak yakin bahwa suatu daerah telah mendapatkan status kata benda khusus, anggaplah bukan.

Institusi

Nama suatu institusi spesifik (contohnya, Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo,dll) adalah kata benda khusus dan harus dikapitalisasi.

Namun, kata untuk tipe institusi (universitas, rumah sakit, sekolah dasar, dll) tidak membutuhkan kapitalisasi jika tidak digunakan sebagai nama:
Tidak tepat:
... Universitas itu memiliki program studi seni dan ilmu ...
Tepat:
... Universitas Indonesia memiliki program studi ...

Cetak Miring


Cetak miring terutama digunakan untuk memberi penekanan pada kata-kata tertentu, walaupun penggunaannya harus berhati-hati.

Gunakan markah cetak miring '', contoh:
''Teks cetak miring.''
yang menghasilkan:
Teks cetak miring.
Cetak miring juga dapat digunakan untuk beberapa hal lainnya:

Judul

Cetak miring digunakan untuk judul karya sastra dan seni. Judul artikel, bab, atau karya pendek lainnnya tidak diberi cetak miring, melainkan diapit oleh tanda kutip ganda.

Kata sebagai kata

Gunakan cetak miring jika menulis mengenai kata sebagai kata atau huruf sebagai huruf untuk menunjukkan perbedaan penggunaannya. Contoh:

  • Dwi berarti dua.
  • Kata sastra diturunkan dari kata bahasa Sansekerta.
  • Huruf paling sering digunakan dalam bahasa Inggris adalah e.

Istilah asing

Gunakan cetak miring untuk frasa dalam bahasa lain dan untuk kata bahasa asing yang belum digunakan secara umum dalam bahasa Indonesia. Gunakan penyerapan ejaan untuk kata-kata tersebut, atau gunakan ejaan asli jika mereka menggunakan alfabet Latin (dengan atau tanpa diakritik). Sebagai contoh:“Baca tulis dalam bahasa Jepang membutuhkan pemahaman mengenai hiragana, katakana, kanji, dan kadang rōmaji”.

Kata serapan atau frasa yang memiliki penggunaan umum dalam bahasa Indonesia – contohnya samurai, abad, sastra – tidak membutuhkan cetak miring. Sebagai pedoman, jangan berikan cetak miring untuk kata yang terdapat dalam kamus bahasa Indonesia. Gunakan bahasa asing dengan hati-hati, dan cantumkan ejaan asli dalam alfabet non Latin dalam tanda kurung. Ejaan asli dalam skrip non Latin (seperti aksara Yunani atau Sirilik) tidak boleh dicetak miring sama sekali, walaupun jika secara teknis dimungkinkan.

Cetak miring dan kutipan

Jangan mencetak miring seluruh kutipan hanya karena itu adalah kutipan. Pertimbangkan untuk menggunakan metode lain seperti mengapit dengan tanda kutip ganda. Gunakan cetak miring di dalam kutipan jika bahan sumber melakukannya, atau jika Anda ingin menambahkan penekanan. Pada kasus kedua, berikan catatan "[penekanan ditambahkan]" pada bagian akhir kutipan.

Jika sumber sendiri menggunakan cetak miring sebagai penekanan, dan Anda ingin menekankan bahwa penekanan tersebut berasal dari sumber dan bukan dari Anda, Anda dapat menambahkan "[penekanan dari sumber]" setelah kutipan tersebut.

Akronim dan singkatan


Jangan menganggap bahwa pembaca terbiasa dengan akronim dan singkatan yang Anda gunakan. Gaya penulisan standar adalah untuk menyebutkan kepanjangan akronim atau singkatan sewaktu pertama kali digunakan (diberikan pranala wiki jika dibutuhkan) dan diikuti dengan akronim atau singkatan setelahnya, dalam tanda kurung. Hal ini akan memberi tahu pengguna bahwa mereka kemungkinan akan menemukannya di dalam artikel. Sebagai contoh:

Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) memperoleh peringkat pertama untuk pilihan masyarakat yang ingin anaknya langsung kerja pada PPDB. Walaupun demikian, Dinas Pendidikan masih belum siap menyediakan kursi yang cukup untuk siswa baru.

Jika istilah tersebut sudah berada dalam tanda kurung, gunakan atau untuk menunjukkan akronim. Contoh:

Pada PPDB (saat Partai Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK memenangi peringkat pertama) Dinas Pendidikan masih belum siap menyediakan kursi yang cukup untuk siswa baru.

Pada artikel yang panjang, akan menolong pembaca untuk menyebutkan kembali kepanjangan suatu akronim atau singkatan atau mewikifisasi kembali jika telah tidak dipergunakan selama beberapa lama, terutama jika pada penggunaan pertama pada suatu bagian besar.

Akronim dan singkatan


Jangan menggunakan daftar jika suatu pernyataan lebih mudah dibaca menggunakan paragraf sederhana atau paragraf terindentasi. Jika setiap paragraf dalam suatu bagian dibuat sebagai entri daftar, kemungkinan besar sebenarnya tidak ada satupun yang harus berbentuk daftar.

Jangan menggunakan berbagai gaya tata bahasa dalam satu daftar yang sama – pilihlah salah satu, baik semuanya menggunakan kalimat lengkap, atau semuanya menggunakan fragmen kalimat. Mulailah tiap baris dengan huruf kapital, bahkan jika merupakan fragmen kalimat.

Jika menggunakan kalimat lengkap, berikan tanda titik pada akhir setiap kalimat. Sebaliknya, jangan berikan tanda titik di akhir jika menggunakan fragmen kalimat.

Gunakan daftar bernomor hanya jika Anda akan merujuk kembali ke salah satu butir dengan menggunakan nomor, atau urutan tiap butir diperlukan (contohnya jika Anda menjelaskan langkah 1, langkah 2, dll. dari suatu proses multitahap).

Kutipan


Jika memungkinkan, gunakan gaya yang digunakan pada teks orisinal; jangan mengubahnya untuk mengikuti tanda baca #EksisSMK. Sebagai pengecualian: jika suatu kutipan mengutip suatu kutipan, gunakan gaya #EksisSMKdengan memulai dengan kutip ganda paling luar; bergantian ke dalam antara kutip tunggal dan kutip ganda. Sebagai contoh, Anda mungkin mengutip suatu artikel yang mengatakan, “Ia membantah pernyataannya bahwa ‘Voltaire tidak pernah berkata “Saya membantah apa yang Anda katakan, tapi saya akan mempertahankan sampai mati hak Anda untuk mengatakan hal itu”’”.

Atau menerapkan aturan ini pada suatu blok kutipan (walaupun kalimat sependek ini jarang dimasukkan dalam blok kutipan), Anda dapat mengutip artikel ini dengan

Ia membantah pernyataannya bahwa “Voltaire tidak pernah berkata ‘Saya membantah apa yang Anda katakan, tapi saya akan mempertahankan sampai mati hak Anda untuk mengatakan hal itu’”.

Berikut adalah dua contoh dari Chicago Manual of Style yang menunjukkan cara menangani koma dan huruf kapital pada awal pengutipan di dalam kalimat:

Ia berkata “memiliki adalah menguasai.”
Ia berkata, “Pergilah sekarang.”

Hindari pembuatan pranala di dalam suatu kutipan, karena melakukan hal ini dapat mengotori kutipan, melanggar prinsip untuk membiarkan kutipan sebagaimana aslinya, dan dapat menyesatkan atau membingungkan pembaca.

Kutip sumber tulisan


Artikel ini adalah panduan gaya penulisan, mendeskripsikan cara untuk menulis sumber kutipan dalam artikel. Memberikan sumber referensi suntingan adalah suatu persyaratan berdasarkan kebijakan #EksisSMK. Hal ini berarti, semua tulisan yang diperdebatkan dan tidak mengandung sumber referensi yang kuat, boleh dihapus oleh siapa saja.

Artikel-artikel di #EksisSMK seharusnya disertai rujukan/referensi yang dapat dipercaya. Bahan-bahan dalam artikel tidak boleh berisi tulisan yang belum pernah diterbitkan sebelumnya oleh sumber yang terpercaya. Ini termasuk teori, data, pernyataan, konsep, argumentasi, dan segala macam hal yang merupakan interpretasi sendiri dan belum diterima kalangan ahli dalam bidang tersebut.

Mengapa sumber diperlukan

  • Agar pengguna dapat mendapatkan informasi tambahan yang terpercaya mengenai topik tersebut
  • Memastikan isi artikel terpercaya dan dapat diperiksa pengguna/penyunting mana pun
  • Mengurangi kemungkinan terjadinya pertentangan antarpenyunting
  • Menghindari klaim plagiarisme
  • Memperlihatkan bahwa suntingan pengguna bukan riset asli
  • Membantu pengguna untuk menemukan mendapatkan sumber tambahan tentang topik yang dibahas
Catatan: Artikel #EksisSMK tidak dapat digunakan sebagai sumber untuk artikel #EksisSMK lainnya